Kisah Budak Sekolah – 6

Dari Bahagian 5

Selaput daranya dah carik dah. Aku tak begitu peduli dan terus menekan. Kulihat bibir cipapnya mekar semakin besar seperti kembang kuncup. Aagghh. aku menahan rasa nikmat kemutan cipapnya. Kupegang bahu dan kutarik kearahku. Srrtt.. Crrkrktt.. Batangku masuk makin ke dalam. Oouuhh nikmatnya setengah mati., Lisa terus menangis terisak-isak kesakitan, sementara aku sendiri pejam celik keenakkan. Batangku keenakan bila kupaksa untuk menyelusup ke dalam liang cipapnya yangg sempit. Terasa hangat dan sedikit basah.

Lisa merintih dan memekik-mekik kecil ketika batangku berjaya menyelusup liang cipapnya yang tersangat sempit. Wooww. Nikmatnya saat liang cipapnya menyepit kepala batangku, daging cipapnya terasa hangat dan agak licin, namun kemutannya begitu kuat seakan-akan kepala batangku seperti diramas-ramas. Aku kembali menekan hingga de dasarnya dan Lisa menjerit kecil lagi, aku tak peduli.

“Aaww. Bbaanngg sakiit..”, teriak Lisa meminta belas kasihan, tubuhnya menggeliat kesakitan dan gemetar.

Aku berusaha menenteramkannya. Kukulum bibir dan lidah Lisa dengan penuh nafsu sekali sambil kugoyang ponggongku perlahan-perlahan. Kemudian aku kucup dahinya. Perlahan aku bawa bibirku ke arah dadanya. Kesedut-sedut lagi. Sehingga bertambah lagi kemerah-merahan tubuhnya yang putih. Mendesah-desah Lisa. Kegelian dan nikmat.

Akhirnya aku tarik batangku. Hanya kapala batangku sahaja yang masih di dalam cipapnya. Aku tarik dan sorong kepala batangku di liang cipapnya berkali-kali. Lisa mula merintih-rintih kembali. Dan aku mengambil kesempatan itu dengan menghentak batangku masuk menyelusup terus ke dasarnya. Tubuh Lisa terangkat ke atas sambil memelukku.

“Ssaakiit.. Oohh… Ssedapnya Bang..”, erang Lisa perlahan. Perkataan sakit sudah bertukar menjadi sedap.

Aku buat begitu berkali-kali. Itulah keenakan bermain dengan seorang dara sunti. Masih perawan. Dan mungkin betapa nikmatnya seorang dara sunti mengalaminya pertama kali. Aku peluk erat tubuhnya. Aku menggeliat kenikmatan merasakan kehangatan dan kehalusan kulitnya, apalagi masa dadaku menekan kedua buah dadanya yang montok. Rasanya begitu kenyal dan hangat. Puting-puting susunya terasa mengeras dan tajam. Perut kami bersentuhan lembut dan yang paling merangsang adalah waktu batangku berenag-renang di dalam liang cipapnya yang lembut tapi sempit.

“Lisa. Hh. Bagaimana sekarang..”, bisikku mesra. Ia memandangku dan tersenyum malu.
“Mm.. Sedap Bang.. Rupanya nikmat ya Bang..”, ujarnya terus terang.

Belum sempat dia selesai berkata-kata, aku tarik kepalanya dan mengulum bibirnya yangg nakal itu, Lisa membalas. Kujulurkan lidahku ke dalam mulutnya dan Lisa terus mengulumnya hangat. Kurayapkan kedua jemari tanganku di belakangnya. Mengusap dan menyelusuri tubuhnya dari bahu terus ke bawah. Di bahunya yang hangat dan padat. Kuramas-ramas dan ketika tanganku bergerak ke bulatan ponggongnya yang bulat merangsang.

Aku genggam dan ramas semahunya. Aku mulai menggoyangkan ponggongnya aku gesel tubuh Lisa yang bogel terutama pada bahagian kelangkangnya dimana batangku masih terpacak. Menekan cipap kecil milik Lisa yang lembut, betapa nikmatnya kurasakan. Lisa menggeliat kegelian namun ia sama sekali tak menolak. Batangku terasa senak bergesel dengan dasar liang cipapnya. Lisa hanya merintih kesedapan dan memekik kecil.

“Aahh.. Sedap Banngg..”, erangnya membuatku makin terangsang.
“Aahh.. Lisa.. Cipapmu.. Nikmat.. Sshh..”, aku melenguh keenakan.
“Goyaang Bbaanng..”, bisiknya hampir tak terdengar. Manja.

Aku menuruti kehendaknya. Aku goyang perlahan-lahan. Sambil aku cium bibirnya dengan bernafsu, dan iapun membalas dengan bernafsu. Nafasnya mendengus-dengus. Batangku menggesel-gesel liang cipapnya dengan agak kasar. Lisa memeluk ponggongku dengan kuat, ujung jemari tangannya menekan punggungku dengan keras. Kukunya terasa menembusi kulitku. Tapi aku tak peduli, aku sedang melayang-layang menikmati tubuhnya. Lisa merintih-merintih dalam cumbuanku. Beberapa kali ia cuba menggigit bibirku, namun aku tak peduli. Aku hanya merasakan betapa liang cipapnya yang hangat dan lembut itu mengemut ketat batangku. Seakan ketika kutarik keluar batangku. Seolah cipapnya mahu ikut sama. Agghh. Nikmatnya luar biasa. Aku mendesis panjang kerana terlalu nikmat.

Aku tarik dan sorong batangku. Keluar masuk menggesel liang cipapnya. Aku rasa dah tak tahan. Nak klimaks. Lisa kulihat seperti terawang-awang perasaannya. Kedua jemari tangannya mengusap-usap perlahan yang berpeluh. Aku kembali mengucup bibirnya. Mengajak bercumbu, Lisa menyambut bibirku. Aku mulai menggerakkan ponggongku turun naik. Tetapi lambat dan teratur. Kutarik perlahan batangku keluar dari kemutan liang cipapnya.

Perlahan-lahan batangku kusorongkan kembali di celah liang hangatnya. Cipapnya kembali mengemut lembut kulit batangku. Kemutan liang cipapnya kembali menahan laju gerakan masuk batangku.

“Aagghh”, kembali aku mengerang menahan rasa nikmat yang tiada tara saat itu.

Lisa menjerit kecil lalu merintih-rintih perlahan diantara rasa nyilu dan nikmat. Aku tekan ponggongku lebih ke bawah hingga seluruh batangku tidak ada lagi yang tersisa di luar celah cipapnya, kutekan dan kutekan sampai kurasakan di antara kemutan ketat bibir dan liang cipapnya kepala batangku menyentuh dasar cipapnya. Mulut rahimnya.

“Aaghhghh”, Lisa kini mengerang-erang mulai merasakan nikmatnya permainan indah ini.
“Oouuhwhww.. Bangg.. Lisa ssee.. Ssedapp.. Nyee.. Oouuhhww..” ia kembali mengerang kenikmatan.
“Aahhgghh.. B.. Bangg.. Aahhghgh. Nikmat b.. angg..”, erangnya lagi.

Saat itu seluruh batangku kembali kubenamkan ke dalam liang cipapnya secara perlahan. Kedua jemari tangan Lisa mengusap-usap dan mencengkam-cengkam kedua belah ponggongku yang terus bergerak turun naik secara lembut menyetubuhinya. Badannya ikut bergoyang perlahan naik turun bahkan kekadang mengayak-ayak seirama dengan tarikan. Beberapa kali dia melepaskan kucupannya dan mendesah lembut melepaskan rasa nikmat. Dia sudah mulai terbiasa dengan gerakan permainan ini.

Aku tarik dan sorong batangku dengan penuh kenikmatan. Kekadang aku sengaja aku main-mainkan kepala batangku di alur cipapnya. Aku sondol-sondol batu permatanya. Tubuh Lisa bergetar-getarku rasakan. Dan ketika Lisa mengerang-erang kesedapan. Aku hentak batangku masuk sampai ke dasarnya kembali. Tubuh Lisa terangkat-angkat bila aku lakukan begitu. Itu yang menjadi keseronokanku. Menikmati tubuh seorang dara sunti.

Tiba-tiba tubuh Lisa mengejang dan bergetar lembut. Mulutnya mendesis dalam kuluman bibirku. Kedua kakinya tiba-tiba dihentakkan ke belakang ponggongku. Sambil ponggongnya diayak-ayak. Aku rasa liang cipap miliknya terkemut-kemut membuat batangku seakan diramas-ramas kuat. Tubuhku ikut merasakan kenikmatan yang amat sangat. Aku biarkan lagi batangku terbenam di dalam liang cipapnya yang sedang berkemut-kemut itu. Suatu cairan yang hangat dan licin mulai membasahi seluruh batang. Lisa menjerit kecil dan melenguh panjang. Aku tau. Lisa dah klimaks lagi.

“Aagghh.. Oouuhh..”, erangnya nikmat.

Kubiarkan Lisa menikmati klimaksnya. Sambil kurendam batangku seketika. Mata Lisa terpejam rapat. Kemudian aku terus berdayung di dalam kehangatan cairan klimaksnya. Semakin laju dan laju. Aku tak dapat menahan. Air maniku mengalir deras menuju hujung batangku. Aku cuba menahan lagi. Tersengguk-sengguk batangku jadinya. Namun akhirnya aku menyerah kalah.

Aku benamkan seluruhnya batangku dan seterusnya ikut melepaskan rasa nikmat yang tertahan dan mencapai puncak nikmat. Air maniku menyembur tumpah keluar dari dalam liang cipapnya.

“Aaghh”, akupun meraung keras, melepaskan segala perasaan yang tertinggal.

Dansambil tanganku memaut ponggong Lisa dan Lisa ayak-ayak tanpa kupinta. Merasai kehangatan air maniku di dalam cipapnya. Tubuh kami sama-sama bergetaran dan mengejang.

“Oouuh.. Bbaanngg.. Oouugghh..”, Lisa melenguh melepas klimaknya.
“Hhgghh… Lii.. Sa.. Hhghgghhg… Oouhh nikmatnya…”, erangku sambil menikmati.

Batangku tersengguk-sengguk memuntahkan air maniku di dalam liang cipapnya. Kugoyang-goyang pinggangnya ke kiri dan aku sudah tak berdaya mengangkat tubuhku lagi. aku rasakan liang cipap Lisa mengendur. Tiba-kedua kakinya terkulai lemas tak bertenaga. Akhirnya akupun ikut terkulai layu di atas tubuhnya.

Aku benar-benar sangat letih namun penuh dengan kenikmatan. Kami berdua hanya mendesah panjang merasai sisa-sisa kenikmatan yang masih tersisa. Aku memeluk erat tubuh Lisa, lalu kukulum bibirnya dengan lembut, lalu aku berguling di sampingnya, batangku menggelungsur keluar dari dalam liang cipap yang kini sudah licin. Ia merintih ngilu. Aku menghempaskan tubuhku di samping tubuh bogel Lisa yang putih mulus berpeluh. Kelemasan.

*****

Begitulah pengalamanku. Selama beberapa hari aku di PJ, aku dan Lisa kerap melakukannya. Sebelum aku meninggalkan Lisa, dia sempat menceritakan kisah Winnie kepadaku. Sebenarnya Winnie telah dijadikan mistress seorang datuk. Tapi Lisa tak bagi tau sapa. Dan Lisa juga akan mengikuti langkahnya. Selepas itu aku putus terus hubungan dengan mereka berdua. Dan aku terus memburu gadis-gadis sunti.

E N D

Kisah Budak Sekolah – 5

Dari Bahagian 4

Aku semakin menggila. Tak puas kuramas lalu mulutku mulai menjilati kedua buah dadanya secara berganti-ganti. Seluruh permukaan buah dadanya basah. Kugigit-gigit lembut puting-puting buah dadanya secara bergantian sambil kuramas-ramas sampai Lisa berteriak kecil kesakitan.

“Bangg.. Sshh.. Shh.. Oohh.. Oouww.. Banngg..”, erangnya.

Aku tak peduli. Lisa menjerit kecil sambil menggeliat ke kiri dan kanan, sesekali kedua jemari tangannya memegang dan meramas rambut kepalaku. Kedua tanganku tetap meramasi kedua buah dadanya berganti-ganti sambil kuhisap-hisap dengan penuh rasa nikmat. Bibir dan lidahku dengan sangat rakus mengucup, mengulum dan menghisap kedua buah dadanya yang kenyal dan padat. Di dalam mulut, puting buah dadanya kupilin-pilin dengan lidahku sambil terus menghisap. Lisa hanya boleh mendesis, mengerang, dan beberapa kali menjerit kuat ketika gigiku menggigit lembut putingnya. Beberapa tempat di kedua bulatan buah dadanya nampak berwarna kemerahan bekas hisapan dan garis-garis kecil bekas gigitanku. Mm. Mm. Ini benar-benar nikmat.

Setelah cukup puas. Bibir dan lidahku kini merayap menurun ke bawah. Kutinggalkan kedua belah buah dadanya yang basah dan penuh dengan lukisan bekas gigitanku dan hisapanku, terlalu jelas dengan warna kulitnya yang putih. Ketika lidahku bermain di atas pusatnya, Lisa mulai mengerang-erang kecil keenakan, bau tubuhnya yang harum bercampur dengan peluh menambah nafsu sex-ku yang semakin memuncak, kukucup dan kubasahi seluruh perutnya yang kecil sampai basah.

Aku undur ke bawah lagi. Dengan cepat lidah dan bibirku yang tak pernah lepas dari kulit tubuhnya itu telah berada di atas bukit cipapnya yang indah mempesona. Tapi kelangkangnya terkatup membuatku kurang berleluasa untuk mencumbu cipapnya.

“Buka kaki Liza ye”, kataku tak sabar.
“Ooh. Bbaanngg”, Lisa hanya merintih perlahan bila aku membuka kelangkangnya.

Kelihatannya dia sudah lemas aku permainkan, tapi aku tau dia belum orgasme walaupun sudah terangsang. Sekarang ini aku ingin merasakan kelazatan cairan kewanitaan dari liang cipap seorang gadis sunti. Aku memperbetulkan position kepalaku di atas kelangkang Lisa. Lisa membuka ke dua belah pehanya lebar-lebar. Kini wajahnya yang manis kelihatan kusut dan rambutnya tampak tak terurus. Kedua matanya tetap terpejam rapat namum bibirnya kelihatan basah merekah indah sekali. Kedua tangannya juga masih tetap memegang kain cadar, dia kelihatannya rasa tertekan.

“Lisa”, kataku mesra.
“Lepaskan saja perasaan. Jangan takut. Kalau Lisa merasa nikmat. Menjerit saja. Biar puass”, kataku selanjutnya.
“I.. Iya b.. Bbanngg.. Se.. Seedapp banngg..”, sambil tetap memejamkan mata ia berkata perlahan.

Aku tersenyum senang, sebentar lagi kau akan merasakan kenikmatan yangg luar biasa sayang, bisikku dalam hati, dan setelah itu aku akan meragut kegadisanmu dan menyetubuhimu sepuasnya. Kuhayati beberapa saat keindahan cipapnya itu. Cipap milik Lisa ini masih Fresh. Kulit di bibir cipap dan di sekitar cipapnya itu masih tembam, tidak kerepot. Kedua bibir cipapnya tertutup rapat sehingga susah untuk aku melihat lubang cipapnya. Benar-benar dara sunti fikirku bangga. Aahh. Betapa nikmatnya nanti saat celah cipap dan liang cipapnya mengemut batangku, akan kutumpahkan sebanyak-banyaknya air maniku ke dalam liangnya nanti sebagai tanda kenikmatan dunia yang tak terkata. Aku berharap agar Lisa juga boleh merasakan pancutan air maniku yang hangat, agar dia juga dapat merasakan kenikmatan yang kurasakan.

Seterusnya tanpa kuduga kedua tangan Lisa menekan kepalaku ke bawah. Ke arah cipapnya. Hidungku menjunam di antara kedua bibir cipapnya. Empuk dan hangat. Kuhidu sepuas-puasnya bau cipapnya penuh perasaan, sementara bibirku mengucup bahagian bawah bibir cipapnya dengan penuh bernafsu. Aku sudu-sudu cipapnya dengan mulutku, sementara jemari kedua tanganku merayap ke balik pehanya dan meramas ponggongnya yang bulat dengan ganas. Rasa cipapnya. Mm. Yummy. Ada sedikit manis dan masin. Nikmat. Lisa menjerit-jerit nikmat tak karuan, tubuhnya menggeliat hebat dan kekadang melonjak-lonjak kencang, beberapa kali kedua pehanya mengepit kepalaku yang asyik berkulum dengan bibir cipapnya. Kupegang kedua belah ponggongnya yang sudah agak berpeluh agar tidak bergerak terlalu banyak, sementara bibirku masih bermain-main di cipapnya.

“Mm.. Bangg.. Auuww.. Aaww.. Hgghhkkhh..”. Lisa mengerang-erang.
“Bang.. Ssedapp.. Bangg.. Aahh aduuhh.. Oouuhh..”, ia memekik cukup kuat kerana nikmatnya.

Kedua tangannya bergerak meramas rambut kepalaku, sambil menggoyang-goyangkan bahunya yang seksi. Kekadang ponggongnya dinaikkannya sambil terkejang nikmat kekadang. Digoyangkan ponggongnya seirama dengan nyonyotanku kepada cipapnya.

“Bangg.. Oouhh.. Yaahh.. Yaahah.. Bang.. Huhuhu.. Huhu..”, Lisa berteriak semakin keras.

Terkadang Lisa seperti menangis. Mungkin tidak berdaya menahan kenikmatan yang kuhasilkan pada cipapnya. Tubuhnya menggeliat hebat dan kepala Lisa berpaling ke kiri dan ke kanan dengan cepat, mulutnya mendesis dan mengerang tak karuan. Aku semakin bersemangat melihat reaksinya. Mulutku semakin buas, dengan nafas tersekat-sekat kusingkap bibir dengan jemari tangan kananku. Mm. Kulihat daging berwarna merah muda yang basah oleh air liurku bercampur dengan cairan air mazinya. Sebelah bawah terlihat celah liang cipapnya yang amat sempit dan berwarna kemerahan. Aku cuba untuk membuka bibir cipap Lisa agak luas, namun Lisa tiba-tiba menjerit kecil. Ternyata aku terlalu luas menyingkap bibir cipapnya.

Kuusap dengan lembut bibir cipapnya. Kemudian lalu kusingkap kembali perlahan-lahan bibir nakalnya itu, celah merahnya kembali terlihat, atas liang cipapnya kulihat ada tonjolan daging kecil. Juga berwarna kemerahan. Batu permatanya. Bahagian paling sensitif. Mm. Ni dia mutiara nikmat bagi Lisa fikirku, lalu dengan rakus lidahku kujulurkan keluar dan mulai menjilat batu permata itu.

Tiba-tiba Lisa menjerit keras sambil kedua kakinya menyentak-nyentakkan ke bawah. Lisa mengejang dengan hebat. Dengan kemas aku memegang kedua belah pehanya dengan kuat lalu sekali lagi kulekatkan bibir dan hidungku di atas celah kedua bibir cipapnya, kujulurkan lidahku keluar sepanjang mungkin lalu kuteluskan lidahku menembusi apitan bibir cipapnya dan kembali menjilat nikmat permatanya.

“Hgghggh.. Hhgh.. Sshshhshh..”, Lisa menjerit tertahan dan mendesis panjang.

Tubuhnya kembali mengejang. Ponggongnya diangkat-angkat ke atas sehingga lebih senang lidahku menyelusup masuk dan mengulit-ulit batu permatanya. Tiba-tiba kudengar Lisa seperti terisak dan kurasakan terdapat lelehan hangat singgah ke bibir mulutku. Aku mengulit permatanya sehingga tubuh Lisa mulai terkulai lemah dan akhirnya ponggongnyapun jatuh kembali ke katil. Lisa melenguh tak menentu. Menghayati nikmat yang baru pertama kali dia rasakan, kenikmatan syurga dunia miliknya. Celah cipapnya kini tampak agak lebih merah. Seluruh kelangkangnya itu nampak basah. Penuh dengan air liur bercampur lendir yang kental. Mm. Mm. Aku jilati seluruh permukaan bukit cipapnya.

“Sedap kan?”, bisikku. Lisa sama sekali tak menjawab, matanya terpejam rapat.

Kulihat lidah Lisa mambasahkan bibirnya. Tanda menikmati keasyikan yang amat sangat. Mulutnya kelihatan tersenyum bahagia. Tanpa menunggu jawabannya, aku segera duduk setengah berlutut di atas tubuhnya. Buah dada Lisa penuh dengan lukisan hasil karyaku. Nafasnya kelihatan turun naik laju. Dengan agak kasar aku bengkokkan kakinya. Dan kutumpangkan kedua pehaku pada pangkal pehanya sehingga kelangkangnya menjadi terbuka luas memperlihatkan cipapnya yang merangsang itu. Kutarik ponggongnya ke arahku sehingga batangku yang sudah cukup lama sengsara, aku geselkan diatas bukit cipap milik Lisa yang masih basah. Kuusap-usapkan kepala batangku pada kedua celah bibir cipapnya. Nikmat. Lisa menggeliat manja.

“Bangg.. Iih.. Gelii.. Aah.. Ggeellii..”, jeritnya manja.

Aku pegang batangku yang sudah keras dan aku ulit-ulitkan di alur cipapnya. Sambil kuusik-usik batu permatanya dengan kepala batangku. Kemudian aku tusuk celah bukit cipapnya, mencari liang cipapnya perlahan-lahan. Kurasakan bukit cipapnya nikmat dan hangat. Aahh. Kuarahkan batangku dengan tanganku menusuk bukit cipapnya yang lembut lalu kepala batangku menyelusup masuk di antara kedua bibir cipapnya.

“Perlahan-lahan Bangg..”, bisiknya lemah.

Dengan jemari tangan kananku mengarah batangku yang sudah tak sabar ingin segera masuk dan meragut selaput daranya itu. Lisa memegang pinggangku kemas-kemas, sementara kulihat Lisa memejamkan kedua belah matanya seolah menungguku. Aku tekan lagi perlahan-lahan.

“Aahh.. Bangg.. Mm.. Aaww.. Pelan-pelan Bangg.. Sakiit..”, Lisa memekik kecil. Menggeliat kesakitan.

Segera aku pegang bahunya agar jangan bergerak. Aku berhenti menekan. aku main-mainkan setakat itu sahaja. Tak mahu terus menekan ke dalam. Dalam pada itu. Tanganku merayap-rayap di dadanya. Aku sedut-sedut dadanya. Dan aku kucup telinganya. Akhirnya aku berjaya melupakan kasakitannya dengan kenikmatan. Dan apabila nampak saja Lisa berada di alam kenikmatan. Aku terus menekan dan chreess. Aku merasa seperti ada yang carik.

“Aauuww.. Huk.. Huk.. Huu.. Huu..” Lisa menjerit keras lalu menangis terisak-isak.

Ke Bahagian 6

Kisah Budak Sekolah – 3

Dari Bahagian 2

Wajahnya nampak merah padam. Jelas pada kulitnya yang putih bersih, kelihatan manis dan ayu. Bibirnya yang merah dan kecil tersenyum malu sambil memperlihatkan giginya yang putih.

“Iih. Adik ini kenapa malu-malu. Tak suka berbual dengan Abang ye”, pancingku.
“Mpphh.. Tt.. Tak.. Aah..”, jawabnya sambil tersenyum manis. Makin berani dia ni. Fikirku.
“Mmh. Boleh Abang tau nama adik?”, tanyaku kemudian.
“Mm…”. Dia tak menjawab, tapi senyumnya semakin manis. Tersipu malu.
“Mm.. Mm.. Mm.. Kenapa Mm.. Aje he.. He.. Tak apa kalau tak boleh. Abang cuma ta..”.
“Mm.. Lisa Bang”, tiba-tiba ia memotong kata-kataku.
“Oo. Lisa. Cantik ye nama tu. Oh ya, Nama Abang..”, sahutku sambil menghulur tangan kepadanya.

Mula-mula dia malu-malu, namun akhirnya ia meraih tangan kananku. Kujabat erat tangannya yang agak kecil, halus mulus sekali, macam tangan Winnie jugak.

“Abang datang sini business ye”, tanyanya makin berani.
“Iyaa. Kenapa?” tanyaku kembali.
“Tak. Saja je tanya. Tak boleh ke” Jawabnya makin manja.

Kuberanikan diriku. Segera aku cuba menarik tubuhnya dekat di sampingku. Dia mengikut dengan manja. Comforter yang pada mulanya menutupi tubuhnya. Jatuh ke bawah memperlihatkan baju kurungnya. Melihat reaksinya itu tanpa terasa batangku tersengguk-sengguk. Mulai mengeras. Aiihh. Boleh ni. Bisik hatiku. Aku segera memeluk tubuh kecil molek yang seksi itu dan dengan perlahan aku cium pipinya yang putih bersih itu dengan bibirku. Lisa gemetar dan terkejut melihat tindakanku yang terlalu berani, lalu segera menarik pipinya. Aku jadi tak sedap hati dibuatnya.

“Eeh. Abang ni. Beraninya”, Lisa memandangku. Namun dia sempat melirik tersenyum.
“Biasa la” jawabku. Mempertahankan diri.

Aku segera cuba mengawal diri semula, sambil tersenyum manis. Aku segera meraih tangannya dan kutarik turun dari katil. Sambil kupegang tangannya erat-erat. Sejuk aje. aku tatap wajah manisnya yang sangat innocent itu. Wajahnya masih mulus dan kelihatan malu-malu, tapi aku tau. Dia ni mahu merasakan bagaimana nikmatnya bersama lelaki. Mungkin Winnie telah menceritakan kepadanya. Ini merupakan peluangku untuk mendapatkan seorang lagi dara sunti. Bisik hatiku. Sambil terus tersenyum manis aku berkata padanya.

“Lisa. Tadi tu. Abang rasa dah tak tahan. Lisa tak biasa ke?”, tanyaku.
“Mm.. Tak. Ta.k Tak.k?” Lisa seakan tetap gemetar.

Lisa berjalan menuju ke kusyen. Tubuhnya yang hanya setinggi bahuku itu melenggok asyik. Walaupun kecil tapi tubuhnya gebu dan kelihatan seksi sekali. Tentu yang di dalam lebih lagi. Hati kecilku berkata. Ponggongnya yang bulat terkulat-kulat menggelek seksi, sedang kedua kakinya kelihatan agak kecil, maklumlah masih sunti. Walaupun dia memakai baju kurung tapi agak ketat sehingga aku dapat lihat bentuk buah dadanya.

Walaupun tidak sebesar kepunyaan Winnie. Sangat merangsang sekali. Seorang gadis yang tubuhnya mulai mekar berkembang seperti mekarnya sekuntum bunga di dalam taman. Batang aku mulai keras kembali. Lisa menghempaskan ponggongnya di kusyen. aku segera mendekatinya dan duduk rapat di sampingnya, aku pandang wajahnya. Bibirnya yang kecil kelihatan basah dan ranum kemerah-kemerahan tanpa lipstik. Mm. Ingin rasanya aku kucup dan kulum bibirnya yang menawan itu.

“Lisa ni cantik la.”, godaku.
“Boleh tak kalau Abang cium Lisa.” kataku semakin nekad walaupun aku tau tak perlu aku katakan begitu.
“Iih. Abang ni.. Ahh..”, jawab Lisa. Tapi aku tau dia bersandiwara. aku jadi semakin berani dan bernafsu.
“Lisa. Jangan takut ya. Apa yang Abang nak. Lisa pun nak. Oleh itu. Terus teranglah”. Kataku.

Tanpa aku sedari kata-kata itu keluar dari mulutku. Aku hairan dengan kata-kataku sendiri seolah-olah ada yang memaksaku untuk mengatakan begitu. Sementara itu mata Lisa memandang ke arahku, mukanya yang putih. Manis merah padam jadinya. Bibirnya yang kecil merah merekah dan tampak basah.

“Bangg..”, hanya kata itu yang diucapkannya, ia hanya memandangku tanpa sepatah katapun.

Aku mengambil inisiatif dengan menggenggam erat mesra kedua belah tangan kecilnya yang halus mulus.

“Betulkan. Apa yang Abang kata”

Selesai aje aku berkata begitu aku dekatkan mukaku ke wajahnya, dan terus aje aku mengucup bibirnya dengan lembut. Bibirnya begitu hangat dan lembut, terasa nikmat dan manis. Hidung kami bersentuhan lembut sehingga nafasnya kudengar tersekat-sekat, namun Lisa tidak menolak, aku kulum bibir bawahnya yang hangat dan lembut, kusedut sedikit. Nikmat. Kali kedua aku mengucup bibir seorang gadis dara sunti. Mengasyikkan. Tidak lama kemudian, aku lepaskan kucupan bibirku. Aku ingin melihat reaksinya. Semasa aku kucup tadi rupanya Lisa memejamkan kedua belah matanya. Dengan mata yang kuyu dia memandangku. Wajah manisnya begitu mempesonaku, bibir kecilnya yang kukucup tadi masih setengah terbuka dan basah merekah.

“Cammnana. Lisa okay tak? Okay. Kan”, tanyaku sambil menahan nafsuku yang bergelora.

Tanpa disedari oleh Lisa batangku sudah tegang tak terkira, kerana batangku menghala ke bawah, sakitnya terpaksa kutahan. Rasa senak pun ada. Aku kucup bibirnya lagi karana aku tak tahan dengan nafsuku sendiri, namun dengan cepat Lisa melepaskan tangan kanannya dari remasanku, ditahannya dadaku dengan lembut. Aku tak jadi mengucupnya.

“Bang.” Lisa berbisik perlahan, kelihatan takut dan gemetar.
“Kenapa. Malu lagi?”, hanya itu yang terucap. Fikiranku telah dikuasai oleh nafsu. Tak tau nak cakap apa.
“Tapi Bang. Lisa takut Bang”
“Takut apa. Cakap. La. Tak ada yang perlu Lisa takutkan. Percayalah”, pujukku meyakinkannya.

Tanpa kusedari kubasahi bibirku sendiri. Tak sabar ingin mengucup bibir kecilnya lagi. Batangku semakin keras. Selain sakit kerana salah parking. Makin membesar, bayangkan aja aku sudah tinggal beberapa babak lagi keinginanku akan dipenuhi, bayangan tubuh gebu. Telanjang bulat. Tak berdaya. Siap untuk di santap. Dara sunti lagi. Ahh alangkah asyiknya.

Tanganku bergerak semakin berani, yang tadinya hanya meramas jemari tangan. Kini mula meraba ke atas. Menyelusuri dari pergelangan tangan terus ke lengan sampai ke bahu lalu kuramas lembut. Kupandang busut bulat bak putik kelapa dari balik baju kurungnya. Kelihatan bonjolan penuh berisi daging montok yang sangat merangsang.

Jemari tanganku gemetar menahan keinginan untuk menjamah dan meramas bukit montok itu. aku lihat Lisa masih memandangku. Tergamam. Namun aku yakin dari wajahnya. Dia telah dilanda oleh nafsu berahi yang menggelora. Dan aku rasa dia tahu. Aku telah bersiap sedia untuk menerkam dirinya. Menjamah tubuhnya. Meramas dan akhirnya akan menguasai dirinya luar dan dalam sampai puas. aku senyum dan berhenti seketika namun bisikan-bisikan di belakangku seakan mengatakan, “Teruskan”.

Kini jemari tangan kananku mulai semakin nekad mengusap bahunya yang sedang mekar itu dan ketika jemariku merayap ke belakang, kuusap belahan ponggongnya yang bulat lalu kuramas-ramas. Aduuh mak. Begitu asyik, hangat dan padat.

“Aahh. Bang”, Lisa merintih perlahan. Semakin lemah.

Saat itu jemari tangan kananku bergerak semakin menggila, kini aku bergerak menyelusup ke belah depan pangkal pehanya yang padat berisi, dan mulai mengusap bukit kecil. Bukit cipapnya. Kuusap perlahan dari balik kainnya agak licin, kemudian dengan perlahan aku selak kainnya ke atas dan kulekapkan jemari tanganku di tengah kelangkangnya. Dan aku genggam perlahan. Lisa menggeliat kecil, semasa jemari tanganku mulai meramas perlahan. Terasa lembut dan hangat di sebalik seluar dalam putihnya. Kudekatkan mulutku kembali ke bibir kecilnya yang tetap basah merekah. Hendak menciumnya, namun Lisa menahan dadaku dengan tangan kanannya.

“Iih. Bang.. Aah.. Bb.. Bang.. Jangan ganas-ganas ya Bang”, bisiknya. Nafasnya turun naik. Laju.

Kena dah dia ni. Fikirku. Menang. Jari jemari tanganku yang sedang berada di celah pehanya itu terus kumainkan peranan. Aku lupa diri, dan aku tak peduli akibat nanti. Yang terfikirkan saat itu, aku ingin segera menjamah tubuh Lisa, merasakan kehangatannya, bermesra dengannya sekaligus memagut dan merasakan nikmat keperawanannya sampai nafsuku dipenuhi.

Tanpa membuang masa segera aku mengucup bibir kecilnya dengan penuh ghairah. Kuhayati dan kurasakan sepenuh perasaan kehangatan dan kelembutan bibirnya itu, aku gigit lembut, kusedut mesra. Mm nikmat. Dengus nafasnya terdengar tak menentu sewaktu aku kucup dan kulum lidahnya. Cukup lama.

Ke Bahagian 4

Kisah Budak Sekolah – 1

Terlebih dahulu, Aku ingin memperkenalkan diri. Aku adalah seorang pegawai di sebuah syarikat swasta yang terkenal kerana sebelum ini ia adalah milik penuh kerajaan. Ibu pejabat syarikat ini berada di Petaling Jaya tetapi Aku kene jaga kawasan timur.

Sebagai pegawai atau lebih tepat pengurus, Aku selalu ke ibu pejabat kerana menghadiri mesyuarat mahupun hal-hal lain. Oleh kerana terlalu banyak masa di luar, keinginan naluri aku terhadap sex jarang dapat dipenuhi atas sebab masa yang tidak menentu.

Terus terang aku katakan, aku ini lelaki normal, kalau lihat awek muda sikit aje, aku ingin memilikinya luar, dalam dan semuanya kalau boleh. Batang aku ni macam nak terbang sendiri mencari tempat bermain. Lebih-lebih lagi kalau awek tu masih sunti walaupun dah tak dara lagi. Keinginanku agak lebih sikit. Bahkan wife akupun kadang menyerah. Tiap-tiap hari aku nak main. Tak dek rest. Yang susah kalau masa bendera jepun datang. Tu yang kena carik luar plak. Dan bermulalah cerita.

Aku carik yang sunti nih bukannya apa. Aku teramat syok bila mendengar lawan main aku merintih-rintih. Menggeliat sakan kerana kurang pengalaman. Belum boleh control lagi. Kalau sampai menjerit kesakitan lagi mengancam. Kata orang tua-tua. Makan keropok.

Pengalamanku yang pertama macam ni. Masa tu aku kena menghadiri mesyuarat kat ibu pejabat. Aku duduk Hotel Hilton. Hari Ahad. Check in petang. Malam tu. Tak tau nak buat apa-apa. Akupun carik makan kat medan selera. Jalan kaki jer. Dekat.

Tengah dok syok makan. Aku terperasan ada awek yang dok pandang aku. Dia tengah bayar makan dia. Bila aku pandang. Dia senyum. Dan akupun balas senyum dia. Nampak macam budak sekolah lagi. Mungkin student yang berdekatan kot. Bisik hatiku. Dia pakai T-Shirt merah dengan mini-skirt putih. Peha dia. Fulamak. Putih melepak. Tentu yang dalam ni lagi best. Bisik hatiku lagi bersamaan dengan ‘bird’ Aku yang dah cuba mengepak nak terbang. Aku buat dek aje. Tak leh response banyak-banyak. Sebab orang ramai. Kang mana tau ada balak dia. Buat malu je. Akupun terus makan. Dan aku tak tau bila plak dia blah.

On the way balik ke Hotel. Ada sebuah bus stop kat jalan depan Hotel. Dari jauh aku nampak awek tadi duduk sorang-sorang. Ada chance nih. Bisik hatiku. Akupun mendekati awek tu. Dekat je.

“Adik tunggu siapa?” tanyaku.
“Saja je. Tak tunggu sesiapa”, jawabnya.
“Kenapa. Berdiri aje. Duduk le. Ke takut”, Kata dia lagi.

Aaiikk. Boleh ni. Bisik hatiku. Jiwa Aku naik bergelora bila kakinya yang mula-mula bersilang terbukak sedikit. Saja je dia buat begitu. Dari cahaya lampu jalan. Aku terlihat seluar dalamnya yang berwarna kehitaman. Akupun mula duduk dekat dengan dia. Dia perkenalkan diri dia sebagai Winnie. Baru aje masuk tingkat empat. Yang berdekatan. Dan kami mula berborak. Tapi yang aku ingat ini je. Winnie kata..

“Sekarang ni susah yek Bang. Semua perkara kena pakai duit”.

Dan dia mula menceritakan masalahnya untuk membiayai persekolahannya.

“Sekarang ni. Walaupun ada wang saku. Tapi hanya cukup setakat ala kadar saja” katanya.

Aku bersimpati dengannya. Tapi kalau tak dapat apa-apa. Apasal nak tolong plak. Paling kurang boleh rasa cipap dia. Aku kata kat dia..

“Macam ni la. Mari ikut Abang”
“Ke mana Bang?”, tanya dia.
“Ikut je”, kataku.

Kami pun jalan bersaing masuk ke Hotel tempat aku menginap tu. Sampai di bilik. aku terus ajak Winnie masuk. Bilik Hotel tu besar nggak. High Class Hotel katakan. Winnie minta izin ke bilik mandi buat mandi kerana belum mandi katanya. Masa Winnie nak masuk ke bilik mandi yang ada bath-tub tu. aku menghalangnya.

“Mandi sama-sama ye, Abang belum mandi nggak nih”, aku terus straight to the point walaupun tadi aku dah mandi.
“Malu la!”, ujar Winnie terperanjat.
“Buat apa nak malu”, kataku lagi yang akhirnya membuatkan Winnie terdiam.

Terpaksa bersetuju. Kemeja dan seluar terus aku tanggalkan, begitu juga dengan T-Shirt merah dan Mini-Skirt Winnie. Aku tinggal seluar dalam jer, Winnie tinggal bra jarang dengan seluar dalam warna hitam. Wow, boleh tahan nggak, aku nyaris gelap mata, kagum gila. Di bath tub, kerana tak tertahan aku pegang buah dada Winnie yang masih berbungkus dengan bra jarangnya.

Winnie tergamam, “Ee. Jangan le. Malu la!”, ujarnya seraya mengangkat tangannya menepis tanganku. Tetapi tak jadi. Bila tanganku sampai dulu.
“Kenapa, Winnie?”, tanyaku.
“Tak de apa-apa, tapi rasa lain macam je?”, ujar Winnie.

Aku makin gembira, pelan-pelan aku tanggalkan bra Winnie, dia ikut aja, sampai aku lihat dengan jelas buah dada Winnie, wah comel je. Cute. Dengan nipple warna kemerahan. Cantik dan indah sekali. aku terus belai, aku ramas-ramas lembut, Winnie kebingungan. Cuma bibirnya saja yang mengeluarkan suara..

“Errghh. Aahh..”

Aku makin naik stim, aku kucup bibir Winnie, kami saling mengulum lidah masing-masing, sementara tanganku asyik bermain-main di dada Winnie. Air di bath tub separuh penuh. Badan Winnie aku terlentangkan. Aku jilat dengan lahap buah dada Winnie dari lembah ke bukit dan mengisapnya kiri dan kanan. Lidahku berjalan ke perut dan mulai turun ke bawah, aku tanggalkan seluar dalam Winnie hingga tak de seurat benangpun menutupi tubuhnya.

“Aahh.. Eahahh.. Ahh, sseedappnnyyeerr”, ujar Winnie mendesis.

Aku makin rancak, tanganku bermain-main di kelangkang Winnie hingga ke cipapnya. Cipap Winnie terus aku usap-usap dan sesekali kularikan jariku ke ‘batu permata’nya sambil mengulum bibir Winnie. Jari hantu aku mulai masuk ke liang cipapnya, Winnie semakin keras mendesah..

“Ergaahh.. Aahh.. Aahh.. Bang.. Sakit.. Bang.. Ahh”.

Baru aku tau rupanya Winnie virgin lagi. aku tak peduli, aku terus mengulum bibir Winnie, sementara Jari hantuku menari-nari di tebing cipap dan batu permata Winnie lalu Winnie pun klimaks untuk pertama kalinya.

Tiba-tiba Winnie berkata, “Winnie Nak tengok abangnya boleh?”

Tanpa jawapan dariku Winnie segera menanggalkan seluar dalamku dan dengan malu-malu terus memegang batang aku. Entah datang dari mana semangatnya. Winnie. Seperti seorang profesional, melancap dan membelai batangku.

“Cam mana kalau masuk mulut yer?” Winnie makin berani.
“Cuba ler..”, ujar aku perlahan.

Pelan-pelan Winnie memasukkan batang aku ke mulutnya. Terus aje dia mengulum dan mengisap. Suaranyanya masih terdengar, “Mmpph.. Mmpphh..” mungkin kerana geram dia mula nak menggigit, aku terperanjat dan terus kuramas-ramas buah dadanya. Ia tersenyum malu namun terus bermain dengan batang aku. Bila nak klimaks, aku tarik batang aku dan aku pancutkan di antara buah dada Winnie.

Ujarnya, “La. Kenapa kencing!!”
“Ini bukan kencing, ini air mani la..”, ujar aku. Dia mengangguk paham. Sambil mengusap-usap air maniku di dadanya.
“Jom. Main yang real punya. Boleh tak!”, lanjut aku.
“Tapi Winnie takut la?”, Winnie jawab balik. Innocence.
“Apa nak takutkan. Tak ada apa-apa. Pengalaman buat Winnie”, kataku lagi. Winnie yang inginkan pengalaman yang tak pernah dilaluinya itu terus menyetujuinya.
“Boleh, tapi di atas katil ye. Jangan kasar-kasar tau”.

Setelah itu pelan-pelan kami berdua beriringan sambil berpelukan berjalan ke arah katil. Aku terus baring di atas katil berselimutkan comforter. Winnie duduk di sebelah. Tanpa berfikir panjang aku tarik tubuh Winnie dekat kepadaku. Gile. Betul, tubuhnya walaupun kecil tapi montel dan gebu. aku terus beraksi, pertama dengan ‘french kissing’. Aku mulai mencium, mengulum, dan menggigit-gigit bibir comel Winnie sampai Winnie telentang dengan sendirinya. Lidah kami tolak menolak. Winnie semakin sesak nafasnya.

Aku baring di sisi kanan Winnie. Kami meneruskan ‘french kissing’ dengan lebih bernafsu sambil tanganku berlegar-legar ke arah buah dada Winnie. Tubuh Winnie terus menggeliat-geliat, aku semakin bertambah nafsu. Aku ramas perlahan-lahan buah dada Winnie, dari bawah menuju ke nipplenya. Nipplenya yang masih berwarna kemerah-merahan jadi keras. Buah dadanya tegak keras, sesekali aku gentel nipplenya dengan lembut menggunakan ibu jari dan jari telunjukku. Setelah itu aku mulai mengulum dan mengisap nipple buah dada Winnie, dia semakin meghenyam-ghenyam..

“Aahh. Eaahhee.. Aahh..”, ujarnya sambil menarik rambutku.

Aku tak tahan, aku gigit nipplenya perlahan-lahan dan semakin kuat ia menarik rambutku.

“Aahh.. Aahh..”, ujarnya semakin kencang.

Kemudian aku pusingkan badannya dengan posisi 69, Winnie terus menyambut batangku dan mengulumnya dengan penuh berahi. Sementara itu aku jilat cipap Winnie, wah wangi. Mungkin bau perfume bercampur bau cipap Winnie. Sambil menjilat, aku main-mainkan ‘batu permata’. Sesekali kucuba masukkan jari hantuku ke dalam. cipap Winnie. Winnie tersentak dan mendesah keras..

“Aahh. Sakit Bang. Aahh. Slow slow ye.. Aahh..” seraya mengulum batangku lebih kuat lagi.

Ke Bahagian 2

Kisah Benarku – Dengan Gadis Bernama Juhaida – 3

Dari Bahagian 2

Masa result SPM keluar, aku pergi temankan Ju ke Ipoh ambil result dia dulu, tu pun pergi naik bas asing-asing. Sampai Ipoh baru jumpa. Lepas aku dah hantar Ju naik bas balik ke kampung baru aku naik bas pergi Seremban dan ambil result aku. Syukur, result aku dengan Ju tak banyak beza. Kami sama-sama isi borang UPU untuk masuk ke universiti lepas tu. Selama aku dan Ju bercouple hampir 2 tahun tu, family kitorang tak ada siapa yang tahu. Kira kami pandai la jaga kelakuan bila kat rumah. Cabaran dan dugaan dalam percintaan pun tak pernah wujud dalam hidup aku dan Ju. Sehinggalah peristiwa mak aku dan mak Ju bergaduh kira-kira sebulan selepas result SPM keluar.

Aku sebenarnya tak tau apa punca pertikaian mak aku dengan mak Ju ni, pasal mak aku tak Nak cerita pulak. Yang aku tau, dia cukup dendam dengan mak Ju. Aku dilarang pergi ke rumah Ju lagi selepas tu. Nak kata apa pulak lagi, kan? Mak dah tak kasi, Nak buat camana? Tapi yang bestnya, mak Ju tak pulak macam mak aku. Dia okey aje aku kawan dengan Ju. Mungkin pasal Ju dah cerita kot pasal kami dekat mak dia. Aku tak berani Nak cerita kat mak aku. Karang tak pasal-pasal kena perli. Mak aku ni jenis pendiam, tapi pendendam. Dia tak berleter, cuma perli aje, tapi tajam gila perli dia. Sedas pagi, sedas lagi time lunch, masa minum petang lagi satu das, esok lagi, lusa, tulat. Tak habis-habis. Jadi aku berhubung dengan Ju pakai surat aje la lepas kena sound dengan mak aku tu.

Seminggu sebelum Ju masuk universiti, family dia pindah ke Setapak. Rumah yang kat kampung tu actually tuk dia punya. Aku takat dapat tengok aje la dari jauh masa Ju meninggalkan kampung aku. Nak rapat tak boleh, karang naya pulak aku kena dengan mak aku.. Hehheh. Aku dan Ju sama-sama masuk universiti dalam kursus yang sama. Nasib baik la kami duduk kolej kediaman lain-lain. Kalau tak payah jugak kot-kot mak aku bertembung dengan mak Ju. Masa orientasi, Ju kata ramai jugak senior Nak tackle dia, dia of course la tak layan. Memang NGAM la awek aku ni. Lepas tu, aku dengan Ju macam biasa la, jadi belangkas ke sana ke sini berdua aje. Peristiwa yang aku ceritakan masa yang lepas tu jadi time kami di tahun 3 pengajian. Nasib baik Ju tak mengandung.

Lepas peristiwa tu aku dan Ju macam makin mesra, lebih daripada sebelumnya. Cuma kitorang tak la mengulangi adegan-adegan di pejabat aku tu lagi. Back to ringan-ringan aje. Tu pun tak selalu. Nasib baik la Ju faham dan insaf(?) serta tak menyangka yang bukan-bukan. Kalau orang lain dah tentu ingat aku tak serious Nak kawin dah. Kami grad 4 tahun lepas. Aku continue kerja dengan syarikat insurans manakala Ju pulak kerja kat syarikat swasta kat Damansara Utama. Perhubungan kami masih lagi jadi rahsia pada keluarga aku. Aku cuba jugak kenen-kenen kat mak aku pasal mak Ju, tapi dia masih berdendam tak habis-habis. Tak jadi aku Nak bagitau mak aku yang aku Nak kawin dengan Ju. Tapi, lepas raya tahun 96, mak aku tiba-tiba pinangkan sorang gadis kat kampung untuk aku.

Masa tu aku kat Key Ell, aku dapat tau pun bila peminangan tu dah pun diterima. Lepas mak aku call, aku terus aje masuk kereta, drive balik kampung malam tu jugak. Mak aku kata macam-macam la pasal budak tu, baik la, cantik la, sopan la.. Macam la aku tak kenal kat dia. Tiga orang abang budak tu kawan aku start dari kecik lagi. Sorang tua setahun, sorang sebaya dan sorang lagi bawah aku 2 tahun. Dah la dia anak angkat mak aku pulak tu. Jenuh aku tepis kiri kanan, tapi bila aku tengok muka mak aku dah lain aje, aku tak sampai hati Nak tolak. Mulut aku cakap terima tapi hati aku dah sebak mengenangkan Ju. Malam tu Ju call handphone aku, aku tak cerita lagi bab aku Nak bertunang. Tak sampai hati.

Buat kali pertama dalam sejarah perhubungan aku dan Ju, aku berbohong dengan dia. Aku katakan mak aku tak sihat. Bila aku balik Key Ell, aku cuba la buat macam biasa dengan Ju, dengan harapan dia tak perasan apa-apa. Tapi bila dah lama berkawan, macamana bagus pun lakonan aku, Ju masih lagi perasan ada benda yang tak kena. Aku katakan aku risau pasal mak aku kat kampung. Nasib baik la cerita aku bertunang tu tak merebak sampai ke telinga Ju. Aku dapat rahsiakan dari dia, sehinggalah.. Hari perkahwinan aku dengan Anizar tinggal seminggu aje lagi. Aku ajak Ju dan mak dia balik kampung bersama aku. Aku katakan ada kenduri mak aku Nak buat minggu depan. Aku cakap kat mak aku pulak yang kerja kat office punya la banyak sangat sampai aku tak boleh balik kampung sehingga tengahari sebelum aku bernikah.

Nasib baik mak aku percaya cakap aku. Aku sampai ke kampung pada minggu depan tu bersama Ju dan mak dia. Ju tak suspect apa-apa bila dia tengok ramai orang kat rumah aku pasal dia percaya mak aku Nak buat kenduri. Sebulan sebelum tu aku dah mintak tolong kat atuk Ju agar dapat merahsiakan cerita sebenar dari Ju. Aku katakan aku Nak Ju dengar dari mulut aku sendiri. Nasib baik la atuk Ju tak maki aku. Jenuh jugak aku Nak explain kat dia. Last-last dia paham jugak maksud aku. Malam tu, lepas Maghrib kat rumah aku ada kenduri doa selamat, orang kampung aku memang biasa buat macam tu, pasal nikah lepas Isyak. Abang-abang aku jemput jemaah surau aje. Atuk Ju pun ada kena jemput sama.

Masa diorang sampai, aku yang sambut, salam semua orang. Masa aku salam dengan atuk Ju, dia bisik kat telinga aku yang Ju dah tau cerita, ada sorang makcik Ju terlepas cakap depan dia petang tadi. Terkejut beruk aku. Punya la risau, macamana aku Nak explain kat Ju nanti? Aku dah tak berapa Nak consentrate masa nikah lepas tu, ada aje yang silap, sampai Tok Naib (Naib Kadi mukim) tegur. Rasanya aku kena ulang lafaz akad dekat 7-8 kali la kot? Aku pun tak berapa ingat dah. Pagi lepas aku nikah tu aku senyap-senyap turun rumah, capai motor dan pegi rumah Ju. Mak Ju yang bukakkan pintu.

“Ju ada kat atas..”

“Rie mintak maaf, makcik.”

Mak Ju mengangguk lemah. Aku naik ke bilik Ju. Sampai aje kat depan bilik Ju aku tarik nafas panjang dan ketuk pintu.

“Ju.. Tolong bukak pintu ni.” Senyap.

“Ju.. Please.. Let me explain.. Ju.. Dengar my side of the story.. Please.. Sayang.. Ju..”

Tap. Selak pintu jatuh. Pintu bilik terkuak sikit. Aku telan air liur dan masuk ke dalam. Ju tengah duduk atas katil sambil peluk teddy bear besar yang aku hadiahkan dulu tu. Aku tengok mata dia merah berair. Aku duduk kat depan Ju dan pelan-pelan aku ambik tangan dia letak kat pipi aku.

“Rie mintak maaf sayang. Semua ni rancangan mak. Rie tak dapat Nak tolak. Rie dah cuba, tapi mak dah berharap sangat. You paham, kan, perangai mak macamana? Rie tak sanggup Nak mengecewakan mak.”

Aku cuba Nak memujuk. Ju diam. Air mata dia mengalir jatuh atas teddy bear.

“Rie janji, kita akan kawin juga nanti. Give me a chance.. No, give us a chance, okay? Rie janji, enam bulan lagi kita kawin, ya sayang?”

“Kalau Ju ikutkan hati ni memang Ju dah halau Rie keluar. Kenapa boleh jadi macam ni? Kenapa Rie tak terangkan kat mak Rie pasal kita? Kenapa Rie tak pikirkan pasal Ju? Kenapa Rie sanggup kecewakan Ju macam ni? Kenapa Rie boleh buang janji Rie pada Ju? Kenapa.. Kenapa..”

Ju teresak-esak. Aku diam aje. Tangan Ju aku genggam erat-erat.

“Rie sedar..”

Kata-kata aku termati di situ. Lama jugak aku dan Ju duduk melayan perasaan masing-masing. Sedih aku tengok buah hati aku macam tu. Aku rapat dengan Ju dan peluk dia. Ju makin kuat teresak-esak sambil menumbuk dada aku. Aku mula mencium pipi, dahi, mata dan hidung Ju. 2-3 kali aku ulang sebelum bibir aku memaut bibir Ju dalam kucupan yang amat panjang. Tangan dia mula memeluk leher aku sambil mengusap-usap rambut aku.

“Rie, Ju.. Mak dah siapkan makan pagi kat luar ni.”

Suara mak Ju memecah kesunyian. Pelan-pelan aku melepaskan pautan bibir Ju dan merenung muka dia. Air mata Ju masih lagi mengalir membasahi pipi gebunya. Aku bangun, menarik Ju berdiri dan memimpinnya ke pintu. Kami keluar beriringan dan duduk mengadap juadah sarapan pagi. Aku dan Ju sama-sama diam sambil makan. Lepas tu, time aku meninggalkan rumah Ju, dia sempat mencium pipi aku dan melambai lemah sambil bibirnya mengucapkan, “I love you” tanpa mengeluarkan suara.

Aku naik motor dan balik ke rumah dengan perasaan kesal kerana telah mengecewakan Ju. Malam pertama bagi aku dan Anizar tak la seperti orang lain. Mungkin pasal aku, satu; sedih mengenangkan Ju, dan dua; letih melayan kawan-kawan sekampung aku yang tak habis-habis mengusik. Abang-abang ipar aku pun join sekali. Sabar je la. Sampai pukul 2 pagi baru la diorang balik. Masa aku masuk bilik pengantin, Ani (panggilan untuk Anizar) dah tidur. Aku tukar baju dan baring. Bila aku lelap pun aku tak sedar. Aku dah la tidur mati pulak tu.

Time aku sedar, hari pun dah pagi. Ani pulak dah tak ada kat dalam bilik. Dia pergi tolong mak dia siapkan sarapan la kot. Lepas mandi, sarapan apa semua, aku lepak dengan abang-abang ipar aku kat tengah rumah. Walaupun aku kawin dengan adik diorang, sori la aku Nak panggil depa abang.. Hehheh. Panggil nama aje la, kau aku kau aku. Bila teringat balik bab aku kawin dengan Ani ni, aku kadang boleh gelak sorang-sorang. Lawak betoi. Masa aku dan Ani diarak ke rumah aku tengahari tu, aku sempat mencuri tengok rumah atuk Ju. Tingkap bilik Ju tertutup rapat. Nampak macam tak ada orang aje kat rumah tu. Nak call pakai handphone, masa tu dah dekat sangat Nak sampai rumah aku.

Ke Bahagian 4

Tags : cerita benar, cerita berahi, cerita ghairah, kisah seks melayu boleh, cerita panas, cerita lucah, ghairah berahi, kisah seks melayu, seks melayu, seks, tudung bogel, cerita 17 tahun, cerita dewasa, gadis bogel, skandal melayu, aksi gadis bertudung, melayu boleh, melayboleh

Kisah Benarku – Dengan Gadis Bernama Juhaida – 2

Dari Bahagian 1

Ju mengesot ke hujung meja dan aku terus capai peha dia angkat ke atas. Mula-mula aku sandarkan aje batang aku kat mulut cipap dia. Lepas tu pelan-pelan aku tekan. Batang aku kira normal la.. Panjang about 5 inci setengah dan lebar 1 inci setengah. Kepala about 2 inci lebar. Aku anjak ke kiri, kanan, atas, bawah Nak cari angle Nak masuk. Punya la ketat.

“Adidididi.. Apa you buat?” dia tanya.

“Tak leh masuk..”

Baru cakap jer tetiba kepala batang aku masuk. Ju tersentak kejap. Aku stop. Takut dia sakit. Mata dia pejam. Lepas tu dia senyum. Aku pelan-pelan tekan. Lepas tu tarik keluar balik sikit. Ju gigit bibir dia.

“Sakit?” aku tanya.

Dia geleng kepala. Aku tekan lagi sampai kepala batang aku masuk terus dalam cipap Ju. Dia bukak mulut, tapi takder suara keluar. Aku tarik balik dan tekan lagi. Kali ni dia bukak mata dan mengerang sambil hembus nafas.

“Uugghh.. Fuuhh..”

Aku tekan lagi sampai separuh batang aku masuk. Lepas tu aku rasa macam ade barrier sekat tekleh masuk lagi. Dah sampai selaput kot. Aku tarik balik. Tak berani Nak masuk lagi.

“Masuk masuk.. Lagi lagi..” Ju mengerang.

“Are you sure?

“Yes yes yes.. Cepat cepat.. Tak tahan..”

Aku tarik nafas dalam-dalam. Lepas tu aku pegang peha Ju kuat-kuat dan tekan.. Rasa cam batang menyondol spendar bila naik tegang time parking bawah jer. Sakit gak ler sikit. Kepala batang ni bukannya keras sangat. Batang aku masuk sikit demi sikit dan tetiba Ju pegang cengkam lengan aku sambil dia jerit..

“Aaoouuss.. Huh.. Huh.. Huh..”

Aku tarik batang aku keluar. Ada lendir merah kat hujung kepala. Darah. Aku tengok darah mengalir dari cipap Ju. Tak le banyak sangat. Ju dah start nangis dah. Nyesal lak aku ikut cakap dia. Aku terus tarik dia bangun dan peluk dia. Aku usap rambut Ju pelan-pelan sambil aku cium pipi dan bibir dia.

“Sakit?” aku tanya soalan bodoh. Dia cium aku dan terus ambik tangan aku letak kat cipap dia.

“Ss..” Ju berdesir kat telinga aku.

“Lagi lagi lagi..”

Aku kembali ke posisi asal dan mula menekan batang aku ke dalam cipap dia balik. Kali ni smooth sikit. Sekali tekan jer kepala dah masuk habis. Time ni baru ler aku perasan betapa ketatnya cipap awek aku ni. Fuh, cakap tak guna.. Nak tahu nikmatnya rasa sindri la.. Aku tekan lagi slow-slow sampai cecah pangkal telur aku. Rasanya lama gak Nak masuk sampai had tu.. Aku stop dulu dan peluk Ju. Aku cium mata dia yang dari tadi pejam tak bukak-bukak. Aku pelan-pelan dayung. Dah rasa nikmat giler. Seronok! Mulut Ju asyik kelua.

“Huh.. Huh.. Huh.. Huh.. Huh..” tiap kali aku sorong tarik batang aku keluar masuk cipap dia.

Dia dah mula cakar belakang aku. Kaki dia dok peluk pinggang aku tak lepas-lepas. Dayungan aku makin laju. 5, 10, 15, 20 kali.. Aku tak kira dah lepas tu. Mulut aku pun ikut rentak mulut Ju jugak. Aku pejam mata. Aku dah tak ingat apa-apa dah.. Cuma aku merasa nikmat syurga dunia. Pangkal peha aku dah rasa basah kuyup. Masa ni lancar je batang aku keluar masuk cipap Ju. Sampai le..

“Hhuugghh..” panjaang aje bunyi keluar dari mulut Ju.

Badan dia terangkat, jari dia cengkam belakang aku, kaki dia peluk pinggang aku kuat gile, kepala dia dongak ke belakang sambil nafas dia turun naik.. Bunyi nafas Ju kuat gile.. Badan Ju mengeletar kuat masa ni. Aku rasa macam bergegar meja tu. Kali ni cipap Ju kemut batang aku punya la.. Tak tau Nak describe camana.. Kira dinding cipap dia macam kena shock letrik je cengkam batang aku. Berombak-ombak aku rasa kat batang aku. Nikmatnya jangan cerita la.. Yang aku tau cukup WONDERFUL dan time tu le batang aku rasa keras tegang gile. Aku tekan batang aku sedalam mungkin kat cipap Ju. Badan aku pun mula menggigil dan batang aku muntah buat kali kedua hari tu.. Kali ni dalam cipap Ju. Berapa banyak mani aku tumpah aku pun tak perasan, tapi rasanya lebih dari 5 kali pancut.. Biasanya time aku stim giler cam tu la. (especially bila lepas baca tek.

Erotika, hehehe..) Kitorang baring kat atas meja tu ntah berapa lama ntah. Badan Ju masih lagi mengeletar.. Dia macam kena sedu (hiccups).. Kejap-kejap dia macam tersentak. (refleks cum la tu..) Cipap dia still dok kemut batang aku yang masih keras kat dalam cipap dia. Aku tengok muka Ju.. Merah padam pipi dia. Mata dia pejam lagi. Aku cium mata dia. Bibir Ju mengulum senyuman manis. Aku tekan batang aku ke dalam cipap Ju. Dia dongak kepala sambil mengerang lembut. Ju slowly bukak mata dia, layu dan kuyu semacam jer. Dia tengok aku.

“I love you very much” aku bisik kat telinga dia.

Ju start cium aku.. Satu muka dia cium. Aku angkat kepala tengok jam kat dinding. Terkejut aku bila tengok dah pukul 1 tengah hari. Selama dua jam aku dan Ju bersenggama (pinjam istilah lama Wahid Kasran) di pejabat hari tu. Aku tak akan lupakan saat-saat manis aku dan Ju merealisasikan benih cinta kami berdua. Sememangnya aku amat ikhlas ingin memperisterikan Ju. Korang sure tak caya kalau aku cakap yang aku dan Ju ni dah cukup lama berkawan, semenjak kecil lagi aku dah kenal dengan Ju, tapi baru sekali tulah aku berani melakukannya. Itu lima tahun dulu punya cerita.

April lepas Ju telah selamat menjadi ISTERI NOMBOR 2 aku.. Hehhehheh. Pelik, kan? Kisah cinta aku dan Ju ni cukup menarik, lebih sensasi dari Sembilu 2. Aku dan Ju sebenarnya berjiran sekampung. Rumah dia kira berdepan dengan rumah aku tapi tak la bertentangan. Semenjak aku mula mengenal dunia di luar rumah aku dah berkawan dengan Ju. Kami sebaya dan masa zaman innocent tu budak-budak lelaki dengan perempuan memang biasa la kalau Nak berkawan pun, kan?

Biasanya aku akan pergi ke rumah Ju untuk aktiviti harian-MAIN! Masa ni belum tadika lagi, jadi kitorang main la dari pagi sampai ke petang. Selalunya ada la 2-3 orang lain join sama, tapi aku sorang je lelaki. Tiap-tiap hari aku dikelilingi perempuan. Nasib baik la aku tak jadi lembut. Lelaki sejati beb! Masa kitorang bermain bersama, permainan kesukaan adalah main kawin-kawin, masak-masak. Aku cam biasa la jadi suami, Ju pulak isteriku yang mulia. Kadang-kadang kami main kat rumah aku jugak sekali-sekala. Masa main kat rumah aku, main atas rumah, bilik parents aku jadi bilik aku dengan Ju. Peehh, best gila kalau aku ingat balik time tu. Boleh kata satu body Ju aku dah tengok. Cuma pasal masa tu kecik lagi tak la berapa menarik sangat. Tapi batang aku dah boleh naik dah kalau tengok awek telanjang.

Part yang ni lain kali la aku cerita. Tunggu aje la.. Aku dan Ju lepas tu masuk sekolah yang sama. Satu kelas dari darjah 1 sampai la darjah 6. Tiap-tiap tahun berlumba-lumba Nak dapat nombor satu dalam kelas. Selalunya aku la yang menang.. Hehhehheh. Tapi Ju tak marah atau merajuk bila dia kalah. Aku masih lagi mengunjungi rumah dia petang-petang. Bila result penilaian darjah lima keluar, cuma aku dan Ju aje yang dapat 5A dalam sekolah kitorang. Masa tu sekolah kampung tak berapa cemerlang lagi. Aku di-tawarkan masuk ke sekolah berasrama penuh di Negeri Sembilan. Ju pulak masuk sekolah asrama di Ipoh. Kami berutus surat setiap minggu.

Aku masa ni dah sedar bahawa kalau aku tak buat something, Ju akan lari ke tangan orang lain dan melepas la aku. Jadi masa aku form 3 aku buat surprise time birthday dia. Kebetulan birthday dia jatuh pada hari Sabtu. Aku sempat tanya dia dalam surat terakhir aku, dia balik kampung tak masa birthday dia nanti? Dia jawab tak, mak dia pergi Key Ell seminggu time tu. Best, kata aku dalam hati. Sekolah Ju lepaskan student keluar town pada hari Sabtu. Aku tahu Ju selalu lepak kat McDonalds sebelah Super Kinta masa lunch. Jadi aku balik ke rumah abang aku kat Ipoh hari Jumaat tu.

Masa lunch esoknya, aku dah siap dah tunggu Ju dalam McD.. Dengan hadiah gila punya besar. Payah gak Nak bawak naik bas benda alah tu. Tapi, Ju punya pasal.. Semua sanggup aku buat. Ju, masuk-masuk aje dia dalam McD, terus jerit nama aku tengah-tengah orang ramai tu. Muka aku punya la tebal aku rasa, ada la dalam 3 kaki kot.. Tapi Ju cepat-cepat tarik aku pegi naik tingkat atas. Kami duduk kat area yang agak tersorok sikit. Dia tanya aku bila sampai, lepak mana, macam-macam.. Aku pulak dengan muka semacho habis menghulurkan hadiah aku pada Ju dengan ucapa.

“Happy Birthday.”

Masa dia Nak sambut hadiah aku tu aku kasi satu ciuman kat pipi Ju. Merah pipi Ju, malu. Mulut dia yang sejak tadi cukup becok, diam terus. Ju tunduk, jari-jemari dia dok belek-belek ribbon pembalut hadiah. Aku pelan-pelan angkat dagu dia sampai kami bertentang mata. Aku suarakan hasrat hati yang inginkan dia jadi awek aku. Dia tersentak sikit, mungkin pasal tak sangka yang aku ada perasaan sedemikian pada dia.

“Ju duduk dulu, pikirkan lamaran Rie ni. Hari ni Rie belanja Ju, okey?”

Ju angguk dan aku bangun turun ke bawah, ambik order. Bila aku naik ke atas balik, aku nampak Ju tersenyum manis tengah peluk teddy bear yang dekat besar orang saiznya. Aku letak tray atas meja dan duduk sebelah dia.

“Thank you..” kata Ju.

“Sayang.”

Satu ciuman melekat kat pipi aku. Terkedu aku. Rasa macam Nak melompat aje hati aku masa tu. Kalau aku ikutkan perasaan, mau jam tu jugak aku gomol Ju puas-puas. Tapi, tak boleh la macam tu, kena kontrol macho.. Hehheh. Mulai hari tu Ju secara rasmi menjadi awek aku. Kami tak announce kat semua orang, even kawan-kawan aku kat sekolah pun tak tau aku ada awek.

Tiap-tiap minggu aku dapat surat dari Ju, dengan bahasa bunga-bunga yang ditulis atas kertas yang memang harum semerbak wanginya. Aku dengan dia, walaupun dah confirm sebagai couple, tak boleh Nak berjumpa selalu sangat bila balik cuti. Orang kampung ni lain sikit time aku dulu. Tapi sekarang ni dah boleh terima sikit la bab bercouple ni. Jadi, aku dengan Ju berutus surat walaupun rumah kami takat sepelaung aje. Ada la someone yang jadi posmen.. Haha.

Ke Bahagian 3

Tags : cerita benar, cerita berahi, cerita ghairah, kisah seks melayu boleh, cerita panas, cerita lucah, ghairah berahi, kisah seks melayu, seks melayu, seks, tudung bogel, cerita 17 tahun, cerita dewasa, gadis bogel, skandal melayu, aksi gadis bertudung, melayu boleh, melayboleh

Kisah Benarku – Dengan Gadis Bernama Juhaida – 1

Sebenarnya aku dah biasa sangat dengan cerita-cerita erotika ni, masa aku sekolah form 3 lagi dah didedahkan dengan cerita cam ni. Tapi, masa tu cerita omputeh la yang ade. Ni first time aku jumpa cerita erotika Melayu. Masa first time tu, gelak gak.. Ye la, word melayu ni kurang sikit unsur-unsur erotika.

But, what the hell.. Kisah ni terjadi kira-kira 5 tahun dulu. Ni betul punya story. Kalau tak caya lantak la. Masa tu aku student lagi kat salah satu U yang berprestij lagi masyhur di Malaysia. Area Key Ell. Untuk cari extra income, aku mula berjinak-jinak dengan bisnes insurans nyawa. Bos aku kira satu geng ngan aku, so kunci office dia bagi aku satu set. Office company aku tu kat Jalan Ipoh, third floor. Bangunannya takyah la bagi tau.. Nanti korang cari aku pulak.. Kan ke naya. Aku masa tu dah ada awek tapi tak pernah projek lagi. Ringan-ringan tu ada la. Setakat cium pipi putih gebu dia aje. Kir.

‘Teruna suci’ lagi la aku ni. Tapi pengalaman Blue dah start dari aku sekolah rendah lagi. Tapi itu cerita lain, hehhehheh. Awek aku pun suci lagi.. Anak dara. Student.. Satu batch ngan aku. Nama dia Juhaida, panggil Ju aje. Muka dia ade la iras-iras Vianney Anastasia Lee. Alaa.. Bini Aziz M. Osman tu.. Tu yang aku jatuh cinta tu.. Tapi awek aku kira gebu sikit.

Body awek aku pun lebih solid dari Vie. Vital statistic dia tak yah le bagitau. Jadi satu hari minggu tu bos aku call kata ada meeting kat office. Aku mula-mula Nak gi sorang tapi awek aku Nak ngikut. Sampai kat office jam pukul 10 setengah pagi, meeting jam 11. Aku tunggu dulu la kat bawah.. 10 minit lepas tu bos aku telefon, kensel. Aku tengok awek aku, dia senyum. Kepala aku dah pusing lain dah masa tu.. Aku ajak dia naik. Aku bukak pintu office, lepas tu kunci dari dalam.

“Tak de orang pon?”

“Bos kata kensel..”

“Abis tu?”

Aku pegang tangan dia.. Dia diam dan tengok muka aku. Slow-slow aku aku angkat tangan dia letak kat bibir aku. Dia tak menolak. Aku cium tapak tangan dia. Kemudian bibir aku mula panjat lengan dia. Masa tu dia dah mula pejam mata dah. Aku jelirkan lidah dan mula merasa kulit lengan dia. Dia mengelak sikit, geli kot. Aku continue sampai kat siku dia. Aku tengok muka Ju merah sikit, mata dia pejam. Aku naikkan lengan T-shirt dia dan teruskan operasi menjilat hingga ke bahu Ju. Aku benamkan bibir ke bahu Ju dan mula menghisap. Nafas Ju mula laju. Tangan Ju naik ke belakang aku. Pelan-pelan aku turunkan balik.

“Ju, kita buat slow and steady..

“Uhh..” Aku tekap bibir aku kat tengkuk dia.

“Jangan hisap, nanti lebam, malu..” Aku senyum..

Aku jilat tengkuk dia. Nafas Ju makin kuat. Aku jilat ke atas sampai kat telinga. Aku start kulum telinga dia. Ju dah start merengek.. Aku main telinga dia dengan lidah.. Lepas tu aku turun balik ke tengkuk dia dan jilat ke atas sampai dagu dia. Aku tolak Ju atas kerusi. Aku jilat tengkuk dia sampai telinga kanan.. Lepas tu aku kulum telinga dia dan main dengan lidah aku. Muka dia langsung aku tak sentuh lagi.. Bagi dia panas dulu baru syok.. (Ade buku cakap cam tu.. Aku ikut jer)

Sepanjang masa tu tangan aku dah start merayap ke pinggang Ju. Slowly aku seluk bawah T-shirt Ju dan pegang pinggang dia. NGAM! Solid wa cakap lu. Aku lurut tangan aku ke atas dan ke bawah sambil lidah aku jilat tengkuk dia. Tangan Ju dah naik ke kepala aku dan meramas-ramas rambut aku. Aku angkat T-shirt Ju ke atas dan tanggalkan terus. Pehh.. Nampak tetek dia. Meleleh aku tengok.. Dia pakai bra jenis kain satin warna hitam, takder pad. Putih melepak wa cakap luu.. Puting dia dah start tersembul sikit. Aku sentuh tang puting, timbul sikit lagi..

Badan aku mula menggigil.. Alamak, baru Nak berjinak-jinak brader, first time la katakan. Normal la tu.. Aku start cium tengah alur tetek dia, sambil tu jilat sikit-sikit. Terangkat dia satu badan. Aku bukak bra Ju dan tengok tetek dia. Kira besar jugak tetek awek aku ni. Saiz bra dia 36B, kira cam besar lutut bila duduk bersila. Senang cerita, time aku pegang tetek dia, tak muat tapak tangan.. Haa.. Puting tetek dia besar kuku jari kelingking dan agak kemerah-merahan.. Hai, dara lagi la katakan.. Aku mula ramas tetek dia pelan-pelan. Kenyal dan padat.

Tangan kanan Ju slow je gosok kepala aku. Aku start hisap puting tetek Ju, kiri dulu kemudian kanan. Rasa masin sikit.. Mungkin peluh kot. Dia punya bau.. Mm, lazat. Aku melutut dan slide turun, kejap hisap, kejap jilat perut dia sampai kat pusat. Kat sini aku hisap lama sikit. Sambil tu aku bukak butang jeans dia dan tarik zip sampai bawah. Aku seluk ke dalam jeans dia dan tarik Nak bukak. Ju mengangkat punggung dia untuk memudahkan kerja aku. Panty pink dia jelas depan mata aku. Bahagian segitiga kat pangkal peha dia nampak basah sikit. Dari pemandangan mata aku masa tu cipap dia memang cukup gebu. Macam apam balik. Aku tengok muka Ju. Dia tengok aku balik.

“Buat ape tengok aje?” Dia senyum.

“Betul ke ni?” aku tanya. Dia angguk. Aku lurutkan panty Ju ke bawah. Licin, langsung takder bulu.

“Ju cukur semalam”.

“BEST!” aku cakap.

Ju gelak dan cubit bahu aku. Aku angkat peha Ju ke atas dan rapatkan muka ke cela ‘Mahkota suci’ Ju. Mula-mula aku tiup bibir cipap Ju. Lepas tu aku tekan dengan lidah aku dan slow-slow jilat ke atas. Menggigil badan dia aku buat camtu. Aku buat lima nam kali lagi sampai dia tolak muka aku dari cipap dia. Aku tengok atas, muka Ju berkerut menahan geli (kot), mata dia pejam. Aku tolak tangan Ju letak atas peha dia. Aku bukak mulut cipap dia, merah berkilat dan bengkak sikit. Aku jelirkan lidah ke dalam lubang merah Ju dan mula menjilat lagi, tapi kat tepi dalam lubang jer.

“Uhh..” Ju mengerang.

Aku cukup syok dengar pompuan mengerang cam tu. Aku start ganas sikit, jelir dalam lagi. Mulut aku dah basah dah, penuh air Ju dengan air liur aku. Tangan aku masa ni dok gesel-gesel kat kelentit Ju. Aku jilat keliling lubang lima nam kali dan naik ke atas sampai kat kelentit dia. Aku tolak kulit kat kelentit Ju ke atas dan nampak kelentit dia, alahai.. Kecik je. Aku rasa urat kat kelentit Ju dengan jari.. Tegang giler. Dia dah excited, aku cakap dalam hati. Aku hisap pelan-pelan, cam hisap gula-gula.

“Isstt.. Uhh..” Ju mengerang lagi.

Sambil tu, tangan kanan aku bukak butang dan zip jeans aku. Aku stop menjilat sat pasal Nak bukak seluar baju. Batang aku dah 135 degree ke atas. Air jangan cakap la.. Berkilat-kilat kepala bana aku. Ju bukak mata dia jap tengok apa aku buat. Dia nampak je batang aku terus dia pejam mata. Hehehe.. Aku sambung balik hisap kelentit Ju. Aku turunkan tangan kiri aku sampai kat lubang cipap Ju. Aku gesel jari telunjuk aku kat mulut lubang cipap. Nak kasi basah. Lepas tu aku jolok slow-slow. Aku pusingkan jari aku ke kiri kanan.. Susah gak Nak masuk ni.

“Aa.. Sakit sakit sakit sakit..” Ju mengaduh.

“Sikit je.. Tahan, nanti orait la..” Aku pujuk.

Aku stop jolok lubang dia tapi jari aku biar kat situ. Aku jilat kelentit dia. Aku jilat turun ke lubang cipap Ju. Lepas tu sambil jilat aku pelan-pelan masukkan jari dalam lubang cipap. Sikit demi sikit jari telunjuk aku masuk ke dalam lubang cipap Ju. Aku rasa ada la dekat 10 minit baru la jari aku masuk sampai pangkal.

“Sakit lagi ke?” aku tanya Ju.

“Mm.. Tak sangat..” aku gerakkan jari.

“Uhh.. Apa you Nak buaatt.. Isskk..”

Aku pusingkan tangan aku sampai tapak tangan mengarah ke atas. Lepas tu aku start urut dinding lubang cipap Ju. Cari “G” spot. Biasanya kedudukan “G” spot ni kat betul-betul kat bawah biji kelentit, dalam lubang cipap. Ibu jari aku tekan kat kelentit dia dan start gentel biji kecik tu. Dia punya la syok sampai kuyup tangan aku kena air dia. Kaki dia dok Nak kepit je.. Nasib aku dah ready tahan. Time ni baru la aku boleh naik cium. Dah panas.. Masa ni baru la aku tau betapa ganasnya kaum wanita ni bila da.

Bila muka aku setentang je depan muka Ju, dia terus tarik aku lekap bibir. Dia punya mulut bunyi dah tak macam orang dah. Nafas dia punya la kuat, dada dia turun naik macam ombak. Cium, kulum, hisap lidah sampai pipi aku pun dia jilat. Jari aku still lagi beroperasi masa ni. Aku Nak dia puas betul.. Aku cium mata Ju, hidung, pipi, dagu, dahi.. Pendekata satu muka. Tangan dia masa ni dok garu-garu belakang aku. Tangan kanan aku pegang batang aku dan aku mula melancap. Kejap je aku dah pancut. Aku mendengus kat mulut Ju. Menitik-nitik mani aku kat perut Ju. Tetiba Ju tarik kepala aku tekan kat mulut dia kuat-kuat.

“Uugghh..”

Rupa-rupanya dia dah sampai. Peehh.. Banjir tangan aku.. Putih jer lendir yang keluar. Cipap dia kemut jari aku jangan cerita la. Jari aku rasa macam diurut-urut. Ju dah macam ayam mengelepar aje. Lama jugak dia cum.. Cum panjang le katakan. Kitorang tercungap-cungap.. Letih derr.. Aku terus lentok kat dada Ju. Rehat dalam 10 minit, Nak recharge batang aku yang dah lentok kat perut dia. Ju tak habis-habis gosok kepala aku. Puas la kot. Lepas tu aku angkat muka dan tengok dia. Walamak.. Senyumannya, dengan pipi merah padam, CUN GILER! Aku mula bersemangat balik. Batang aku pun dah start Nak keras balik.

“Sayang, YOU ARE GREAT!” dia puji aku.

“So, are you ready for PART 2?” aku tanya.

“Mm..” dia angguk.

Aku ambik tisu kat meja sebelah kerusi untuk lap tangan dengan batang aku. Ju lap perut dia. Dia nampak batang aku dok mencanak ke depan, terus dia tutup mulut dengan tangan.. Gelak. Aku senyum dan tarik tangan dia pegang batang aku. Dia pelan-pelan urut dari pangkal ke hujung. Dua tiga kali dia buat cam tu. Aku peluk dia dan lekap bibir aku kat bibir dia. Kitorang French kiss sambil tangan aku meramas-ramas bontot Ju. Lepas tu aku clearkan meja dan suruh Ju baring. Dengan steadynya awek aku baring dan terus angkat lutut dia. Aku senyum jer tengok.

“Kenapa jauh sangat tu.. Dekat sikit” aku cakap.

Ke Bahagian 2

Tags : cerita benar, cerita berahi, cerita ghairah, kisah seks melayu boleh, cerita panas, cerita lucah, ghairah berahi, kisah seks melayu, seks melayu, seks, tudung bogel, cerita 17 tahun, cerita dewasa, gadis bogel, skandal melayu, aksi gadis bertudung, melayu boleh, melayboleh

Cerita Berahi – Golek Adik, Golek Kakaknya – 2

Dari bagian 1

Baru sahaja dua hari yang lalu, aku telah menulis 2 entry.. Bagaimanapun, aku akan cuba menunaikan permintaan peminat weblogku.. Hahaha.. *kidding*.. Entah mengapa, membaca weblog satu sama lain sudah menjadi satu kegiatan harian dan ada masa perasaan bosan menusuk kalbu! Ha!

My Sastera Melayu is as canggih as a 13yr old’s.. Huh! Ada ker, masa mengajar bahasa Melayu di sebuah institut swasta 4, ada anak murid I menggunakan peribahasa ‘bunga tahi ayam’ and I was completely taken aback because I haven’t come across that word before in my life.. Setelah mendapat kepastian dan mencari barulah I faham maknanya.

Mengajar Bahasa Melayu tetapi speaking.. Bukan satu perkara yang baik.. Tetapi most of the time, I ended up translating English words to Malay for my students anyway.. I amat kagum dengan rakan-rakan I yang boleh menulis sajak dan sebagainya when in fact, in everyday situations, I think we speak English like 75% of the time.. I guess their interest in Malay Literature caused them to excel in it as well..

Pada I economy is an interesting subject.. English Literature biasaklah.. With brilliant analogies, and puns and stuff.. Tetapi pabila membaca puisi Melayu, be it a sajak, syair, pantun, atau cerpen, I realise bahasa Melayu mempunyai the ‘lembut’ tone.. Which is a nice characteristic.. And the words just seem so much more delicate.. In oppose to bombastic. Maybe it just sounds delicate because I usually imagine the way it is read out.. But really, I find that when I say the same thing in English and Malay, it just sounds gentler when it’s in Malay.

That is probably why Malay guys like soft-spoken Malay girls *ehem ehem*. Then again, bahasa Melayu juga ada bahasa pasar yang kasar.. But cut out the kau, aku, and other types of rough words, and it sounds pretty and sometimes manja.

My hubby prefers me speaking in Malay to him instead of English because obviously I don’t use ‘kau aku’ in my conversation with him..

What else is there to say.. Really happening.. Hahaha.. Satu development yang menarik.. Tetapi should I tell it.. Nak story atau tak mahu.. Sengih kerang..

I senyum but it may or may not be a mistake but terus terang dan jujur ia satu pengalaman yang cukup menarik. Jauh bezanya dari apa yang I rasakan selama ini.. Really, I sumpah..

Tidak I sangka, adik I, si Rosnah.. Just imagine.. Dia make love dengan hubby I.. Sakitnye hati.. Ee.. Nak picit-picit dia.. Nak bunuh dia.. Nak tikam dia.. Suruh babysit anak I (anak sedara dia) tapi sebaliknya babysit suami I pula.. Bayangkan.. Naik darah I menyirap ke muka.. Sickening.. I yang banyak tolong dia, Nabila kakak dia ini, sanggup dia racun rumah tangga kami.. Berang dan marah tidak terhingga rasa hatiku..

Lebih menyakitkan dan mencuka jiwa dan rasaku ialah Abang Helmi yang mengkhianati aku. Yang mengongkek Rosnah, adik iparnya. Tapi cemburu bukan main.. Abang Heklmi andai dan ingat aku ni, iste-rinya adalah kayu, patung atau pokok nak duduk diam dan biarkan apa yang sudah berlaku itu berlaku.. Abang Helmi boleh buat silap.. Tapi apakah silap yang seperti itu boleh aku maafkan begitu sahaja? Oo.. Silap.. Silap?!

SMS satu tool komunikasi. Efektif. Dengan cara itulah perhubungan ku dengan Abang N berlaku untuk beberapa waktu. Kini keintiman kami bertambah dari hari ke hari. Dari komunikasi kami bertemu untuk lunch atau tea.

{hi dear.. Free for a date today? Meet discreetly? Muahhs:)}

Aku membaca SMS Abang N. Senyum ketika aku rehat di bilik guru. Meet discreetly? Angguk sambil memegang daguku. Melihat diari dan catatan yang ada. Nak jumpa atau tak mahu? Rasa suka sudah bertahta di dada. Gurau, usik dan seloka Abang N mengembirakan hatiku yang tengah sakit. Menyenangkan jiwaku sedang aku masih lagi tidak bertegur sapa dengan Abang Helmi. Tambahan he’s not around. Pandai dia menghilangkan diri ke Brunei selama dua minggu dan aku refuse nak jawab panggilannya.

Hanset aku berdering. Kulihat nombor di skrin tapi tulis private number.

“Halo..”

“Kak.. Ros nie.. Jangan marah. Abang Helmi call tanya kabar akak dan Swit?”

Aku diam. Hati sakit tetap ada. Tambah marah lagi kat Rosnah, adik ku.

“Cakap kat dia, bila akak senang nanti akak jawab. Akak marah kat kau. Sampai hati kau. Sickening..”

“Tak sengaja Kak. Sorry. Nak buat camne dah berlaku. Did’nt mean to hurt you” sahut Rosnah dari sebelah sana.

“Senang ko cakap kau dah njoy.. Tak malu ke!” suaraku agak tinggi but I realize ada cikgu-cikgu lain dalam bilik rehat itu.

“Oklah. Akak bz ni. C u bye.”

Peluh di dahiku. Begitu juga di hidungku. Aku lap. Kembali semula ke buku harianku. No commitments hari ini. Aku senyum semula… ya why not? Meet discreetly? Abang N, duda kematian isteri. Ada standing dan status. Takdepun tak kisah asalkan comfortable. Yes, I am comfortable dengan Abang N. Love his companion. Meet dis-creetly? Jumpa sembunyi-sembunyi.. Aku sengih.. Hehehe!!

So be it.. Bukan lagenda dan bukan Puteri Gunung Ledang tapi persembunyian Nabila.. Oh My! Oh My! Di sebuah bangalo di lereng bukit.. Jauh dari bangalo-bangalo lain. Sunyi sepi persekitaran.. Angin petang menyapa ramah.. Dari balkoni master bedroom bangalo itu, aku dapat melihat wajah ibukota, dengan berdiri megahnya twin tower KLcc, KL Tower dan lain-lain mercu tanda yang mewarnai wajah Keyel.

“You’re comfortable dear?” tanya Abang N sambil duduk di sofa.

“Yup..” sawabku selamba walhal hatiku berdebar kencang. Senyum.

“Make yourself at home. Anggap you dah biasa di sini je” sambah Abang N menyiapkan dua cawan teh setelah memasak air panas.

Dia pasang music, bagi aku minum lagi lepas tu perlahan berkata, “I really like you Nabila.. Can we enjoy both our body my dear” Naik seram bulu roma aku bila Abang N cakap macam tu, ye lah aku tak pernah experience dengan lelaki lain, seks aku cuma limited pada suami aku aje.

Itu mukadimahnya dan kini.. Belum pernah aku begini dengan lelaki lain yang bukan suamiku. Belum pernah aku begini dengan seorang lelaki asing. Yang aku kenal dan tahu hanyalah suamiku, Abang Helmi, luar dan dalam. Tapi bila wajah dan namanya terlintas di benakku, hatiku mendidih and I don’t want to remember him at all. Bencii!!

Kini.. Percayalah aku berbogel dan bersentuhan dengan Abang N, rakan kenalanku. Lelaki kedua dalam hidupku yang menyentuh tubuh bogelku.

Hatiku tidak mampu membendung kata nafsuku. Aku sudah tidak mampu berundur. Abang N merenungku tepat dan aku begitu juga. Matanya tepat menangkap wajah bujurku dengan bibirnya sedikit terbuka. Nafasnya panjang dan dadanya berombak-ombak menahan ghairah. Aku juga sedemikian dengan lidahku kelu sambil dadaku bagai nak pecah.

Kini mataku beralih ke bawah perut kempis Abang N. Zakarnya besar, panjang dan tegang. Seeing is believing. Besar sungguh dan keras. Terhunus kuat dengan kepala kote mengembang. Bulatnya ada besar mentol lampu tidor 40 wat. Aku menekup mulutku. Abang N mempamerkan butuhnya di depanku. Dan dia mula mengangkangkan kakiku ingin melihat cipapku. O migod.. Malunya. Mengigil aku. Yes aku akui aku mengigil. Baik aku melihat kotenya dan dia melihat seluruh tubuhku. Terasa kekok sebab dia bukan suamiku.

Namun, mataku tidak berkelip-kelip memandang batang zakar Abang N. Abang N memegang batang butuhnya lalu melurutkan berulang-ulang, diangkat ke atas dan ke bawah dan dihayunkan kiri ke kanan untuk tontonanku. Dadaku berombak keras sambil menarik nafas yang dalam. Membayangkan batang butuh yang besar, panjang dan tegang itu akan berada dalam lubang cipapku sebentar sahaja lagi.

Aku akui this cock is big and long. Yang kulihat realitinya milik Abang N. Tidak perlu dibandingkan dengan milik suamiku, Abang Helmi. Nowhere. Pada mulanya aku memegang agak kuat butuh Abang N, tapi setelah sedikit tunjuk ajar dari Abang N kini aku membelai butuh Abang N dengan gosokan, usapan, urutan yang manja dan lemah lembut. Tubuhku seram sejuk namun nafsuku menghangat-kan badanku. Aku melancapkan batang butuhnya sambil merenung kepala zakarnya yang kembang membulat kemerah-merahan.

Kini Abang N menyapu farajku dengan kaya pandan. Lalu menokak farajku dengan mulutnya selepas diusap, diurut, diulit dan dibelai tundunku yang berbulu kerinting. Lidahnya menjulur ke alur pukiku, menjilat labia minoraku, kemudian mengulum dan mengigit manja labia minoraku yang merah dan kembang seperti kelopak bungaraya disaluti lendir berahi. Habis kaya itu bersatu dengan lendir maziku dijilat dan disedut oleh Abang N. Punggung-ku terkinjal-kinjal dan tubuhku meleding menerima jilatan dan sedutan pada lubang pukiku. Tambahan bila Abang N menyonyot kelentitku yang keras sebesar buah kacang peas.

“Urghh!!” keluh dan desahku keras dan seluruh tubuhku bagaikan dikaran dengan sepuhan dan sentuhan tangan, bibir, mulut dan lidah Abang N. Gelii.. Aku tak mampu mengulum batang Abang N seluruhnya, yang aku mampu hanya setakat takuk kepala kotenya sahaja. Itu juga sudah membuat aku lemas ketika kami dalam kedudukan 69. Aku di atas dan Abang N dibawah mengoyak cipapku dan mengulum kelentit sambil memainkan lidah dihujungnya dan menjulurkan lidah keluar masuk dalam lubang farajku.

“Huhahuhahuhaa.. Abang nn.. I kuarr..” jeritku sambil aku terkencing dan klimaks serentak..

Abang N tambah bernafsu melihat aku kebasahan. Cipapku lenjun. Lantas dia memimpin aku ke bilik air untuk mencuci semula cipapku. Bersabun dan dilapnya kering.

“Nice cipap you Nabila.. Sengihnya menjemput..” kata Abang N memuji sambil menepuk manja tundunku ketika aku berbaring di atas permaidani tebal yang terhampar di tengah-tengah bilik itu.

Aku ketawa kecil dan sudah hilang maluku.

Kini kaya di sapu diputing dan buah dadaku.. Dipusatku.. Ditundun cipapku.. Bayangkanlah bagaimana hilangnya akal aku bila Abang N memulakan operasinya memakan pussyku semula. Aku kelemasan kerana semua bahagian-bahagian tubuhku yang tidak pernah disentuh telah disentuh oleh Abang N membuatkan aku orgasme tiga kali. Nafasku tercunggap-cunggap dan tubuhku mengelinjang. Seluruh saraf dan ototku kejang lalu lembut semula dengan permainan Abang N.

Akhirnya.. Aku bersedia.. Believe me I was scared. Namun pujukan, rayuan dan ulitan Abang N di tubuhku, membuatkan aku rela untuk digerudi oleh butuh Abang N. Ketika dia mengucup hangat dan kami bermain lidah, Abang N menekan kepala butuhnya ke dalam lubang farajku.

Sakitt.. Aku menjerit sambil menolak dada Abang N kerana terasa detusan kepala kote Abang N menerobos masuk ke dalam lubang cipapku. Cipapku kini menelan kepala kote Abang N.

“Rilekss love.. Sikit jerr sakitnya.. You’ll enjoy it wild love..” pujuk Abang n mengucup bibirku sambil meramas buah dadaku. Kemudian menyonyot puting susuku yang keras.

Mula-mula terasa pedih pada bahagian bibir, lama-kelamaan rasa pedih itu terhindar dengan rasa seronok dan sedap. Aku melegakan ruang di cipapku dengan mengoyangkan punggung lebarku. Dalam ngoi-ngoi, desah, renggek, raung dan jeritanku, Abang N memacu butuhnya ke dalam cipapku, yang kini sudah mampu menerima seluruhnya sampai ke pangkal batang yang rapat ke dinding tundunku.

“Makk.. Adui sakitnya.. Makk.. Adui sedapnya kote Abang nn.. Senakk.. Keras.. Arghh.. Urghh.. Fuck mee hard,” jeritku bising sambil kami berdua menghonggah tubuh masing-masing dalam peluh yang memercik.

Aku klimaks dulu dua kali, barulah Abang N klimaks dengan melepaskan berdas-das tembakan air maninya dalam lubang pukiku. Terasa hangat dan menyengat sehingga air maninya meleleh keluar dari lubang cipapku. Kemudian dia memancutkan air maninya ke bahagian tetekku dan tak lupa dalam mulutku. Bayangkan pertama-kali aku menelan air maninya.

Wow.. Sesungguhnya it was a good and wild fuck dan aku bahagia dengan penemuan dan pengalaman baru ini. Aku tidak menyesal dengan apa yang telah aku lakukan. Aku tahu kemampuan suamiku, Abang Helmi dalam permainan ini. Tidak pernah aku merasakan kepuasan yang semaksima yang aku rasakan dengan kongkekan Abang N. Inilah permulaan dan pengenalan kepada nafsu jalangku..

Kaget dan terpesona-aku berpeluang melihat CD, aku dan Abang N sedang beraksi bersetubuh/making love. Our very own. It is our secret. O migod.. This man is a great lover. There’s a lot of secrets with and surrounding him. But I terjumpa satu sahaja. He’s care-less I suppose but I was not shocked. Aku memainkan CD, pada satu petang sebelum kami nak make love dalam master bedroomnya, konon nak memanaskan badan/warmingup. Aku memasangnya dan Abang N kebetulan busy sikit menjawab panggilan telefon di study roomnya. Jadi aku sahaja yang menonton CD itu. CD kamilah.. Hehe!

Yang kulihat!! Adikku Rosnah sedang beraksi, difuck Abang N. O migod..my little sister, Rosnah really enjoyed the fuck dan percayalah adikku Rosnah, was bleeding dicipapnya, goshed she was shocked apabila melihat pukinya berdarah dan menjerit sakit but later enjoyed the fuck seperti yang ditayangkan dalam CD itu. Rupanya Abang N yang mewanitakan dan memecah dara adikku, Rosnah.

Apakah Abang N kekasih kami dua beradik?

E N D

Tags : kisah seks, cerita seks melayu, cerita ghairah, gambar seks, malay bogel, bogel malaysia, lelaki bogel, wanita bogel, xbrain biz melayu bogel, artis melayu bogel, gadis melayu bogel, uitm bogel, cerita bogel, wanita bogel, melayu awek bogel, perempuan melayu bogel, melayu boleh bogel, gambar perempuan, gambar bugil, cerita rogol

Cerita Berahi – Golek Adik, Golek Kakaknya – 1

Namaku Rosnah. Usiaku 28 tahun. Muda dan cun melecun tapi boleh kata lewat juga usiaku sebab belum menikah. Wajah dan bodyku mirip graduan AF-AF Zarina.

Pagi ini, aku datang opis macam biasa.. Aku tengok dinding opis aku.. Sejambak bunga ros yang telah kering, masih tergantung di situ.. Tapi bunga-bunga itu seakan sudah reput.. Akibat proses kereputan menyebabkan habuk-habuk halus jatuh ke meja aku.. Aku pandang lagi bunga ros itu..

Setahun lalu diberi oleh seseorang semasa hari kekasih hehe, bersama sekotak coklat. Coklatnya sudah habis aku makan.. Cuma tinggal bunganya sahaja yang tergantung kemas di dinding opis aku.. Aku ambil bunga ros itu.. Aku belek-belek.. Maaf, aku terpaksa membuangnya sebab sudah uzur sangat.. Bunga ros lama itu menyebabkan aku terpaksa membersihkan meja aku setiap pagi..

Kini dinding aku sudah lapang.. Tiada hiasan bunga ros lagi.. Hanya tinggal kad-kad ucapan dan sekuntum bunga ros plastik yang diberi opismate aku masa nak pindah dulu.. Ada sesaper nak kasi aku bunga lagi tak? Boleh aku gantungkan kat dinding opis aku.. Ingat-ingat baik pergi umah akakku.. Nabila,31tahun.. Cun melecun orangnya. Professionnya seorang guru.

Malam tadi aku tidur lewat juga dalam pukul dua pagi. Entah kenapa mood aku macam tak betul pula sekarang. Bosan teramat.. Dah lama aku tak rasa bosan begini huahuahua.. Kuang.. Kuang.. Kuang.

Minggu ni housemate aku dari satu kampung dengan aku ajak balik kampung, tapi aku baru balik kampung dua minggu lepas. Aku tak mahu jadi aku tak ikut balik sekali.. Sebab bosan teramat, apa nak buat ah.. Hehe akupun call akakku. Aku cakap nak datang rumah dia.. Rumah dia kat ttar, agak susah nak pergi sana kalau takde kenderaan.

Akak aku cakap dia akan amik aku kat umah.. Dia ada seminar sekolahnya dan suka aku datang rumah dia, boleh babysit anak dia kejap dan Abang ipar aku tak kemana-mana-mungkin golf kut.. Aku rapat dengan Abang ipar, Lagipun sudah lama tak bermain-main dengan anak sedara aku yang bulat cenoni yang nama jolokannya Swit..

AKu ingat nak tidor sana semalam. Then Ahad baru balik la. Minggu ni pun takde apa-apa plan nak keluar.. Best ada akak or Abang yang duduk dedekat.. Boleh lelepak di umah mereka.. Tiap-tiap minggupun aku boleh pergi rumah mereka.. Kalau aku mau tapi..

Abang iparku, Abang Helmi itu tegas orangnya. Dia seorang jurutera. Usia 35 tahun, wajah dan bodynya macam penyanyi Reza.

“Saya bagi kata dua kat awak, awak tolak tawaran ajar Guru Tingkatan Enam tu, atau awak berhenti jer dari mengajar di sekolah tu,” Kata Abang ipar aku tegas.

“Ishk, ni peluang saya mengajar semula apa dipelajari kat Universiti dulu, Guru besar suruh mengajar Ekonomi, saya minat dan suka sangat.” jawab kakak aku mempertahankan pendiriannya.

“Saya mampu tanggung awak dengan gaji saya, saya suruh awak kerjapun sebab takut awak boring kat rumah. So hope awak boleh paham,” sambung Abang iparku dengan muka masam..

Marah betul dengar khabar dari akak aku, Guru besar telah memanggil kakak aku dan meminta supaya mengajar budak-budak form six dalam subjek ekonomi, Abang ipar aku memang agak cemburu. Ada isteri yang cantik macam akak aku menjadi kebang-gaan(cantik bagi pandangan kami semua). Kalau akak aku cantik, aku pun sempoi juga lerr. Hehehehe..

Tolak tawaran untuk mengajar student upper six atau berenti saja dari sekolah.. Dasyat penangan cemburu dari Abang ipar aku. Apa yang dicemburukannya budak-budak sekolah. Aku sengih dan senyum melirik.. So, siapa kata orang lelaki tak sayang bini? Hehehe.. Walaupun diorang dah kahwin dekat lapan tahun dah, tapi Abang ipar aku still sayang kat kakak aku macam dulu juga..

Dan akak aku menghormati keputusan suaminya, Alhamdulillah.. Dia menolak tawaran guru besar itu walaupun hatinya meronta-ronta untuk menunjukkan bakatnya didalam pengajaran Ekonomi. Sabarlah Kak.. Mungkin ada hikmahnya.. Dan Abang Ipar aku tersenyum. Pernah babak itu kudengar. Abang Iparku memang straight forward.

Akakku diseminarnya. Helmi, Abang iparku tidak ke golfnya. Dia di rumah petang itu ketika aku sampai dihantar oleh akakku. Setelah dihantar akak pesan dia lambat balik, minta aku beritahu maklu-mat itu kepada Abang iparku. Dia ada di tempat seminar, Hotel Quality.

Aku pula ke bilik air di tingkat bawah. Berendam dalam bathtub penuh dengan air suam dapat merehatkan badan dan mindaku. Selesai mandi, aku segera keluar dari bilik air. Ooppss!! Aku terlanggar Abang Helmi yang entah dari mana datangnya. Hampir terlucut tuala yang kupakai. Aku terpempan.. Hendak lari semula ke dalam bilik air, rasa terkunci dan kaku kakiku ini.

Abang Helmi juga nampaknya seperti tergamam. Dia memakai ber-muda short tanpa baju melopong memandang dadaku. Mungkin dia hendak ke bilik mandi.. Fikirku.

Tiba-tiba Abang Helmi menghimpit aku ke dinding lalu mengucup bibirku. Aku benar-benar terkejut tapi hairannya.. Aku hanya membatukan diri dan tidak melawan. Seperti merelakan perlakuan Abang iparku itu. Abang Helmi merenungku dalam. Melihat reaksi-ku demikian, sekali lagi Abang Helmi mengucup bibirku. Kali ini kucupannya lebih rakus.. Dan lebih hangat.. Sambil tangannya meraba pehaku dan mengusap cipapku. Jantungku berdebar kencang. Lidah Abang Helmi bermain dalam mulutku. Kucupan Abang Helmi menyebabkan aku lemas.

Dia mengambil kesempatan ini untuk mencium leherku pula. Tidak habis dengan itu, telingaku dijilatnya.. Tangannya mula meramas-ramas buah dadaku yang terpacul keluar dari ikatan tuala itu.. Aku dapat merasakan keras dan tegangnya batang zakar Abang Helmi yang menekan cipapku disebalik tuala yang kupakai ini.

Aku memejamkan mata, mengumam bibirku dengan wajahku berkerut menahan nikmat. Arrgghh.. Aku benar-benar terangsang.. Antara realiti dan fantasi.. Lupakah aku yang sedang mengulit tubuhku ini adalah Abang iparku, suami kepada kakak kandungku?

Seketika Abang Helmi terhenti.. Aku membuka mata. Abang Helmi menarik tanganku menuju ke bilik tetamu. Aku menurut bagaikan dipukau. Abang Helmi membaringkan aku di atas katilnya. Sambil tunduk, dia mencium dahi, mata dan kemudian bibirku..

Abang Helmi mengangkat kepalanya lalu merenung tubuh bogelku. Kedua tangannya meramas, meraba, mengulit leherku.. Bahu.. Menjalar ke buah dadaku.. Perut.. Peha.. Pukiku dan hinggalah ke hujung kaki.. Seolah-olah dia ingin menghayati setiap inci tubuhku ini.

Abang Helmi mempergunakan pengalamannya sedang aku makin ber-debar-debar menanti tindakan Abang Helmi selanjutnya.. Tiba-tiba Abang Helmi bangun lalu mencapai beberapa sachet jem blueberry di dalam peti ais kecil yang ada di bilik tamu itu.

Abang Helmi mengambil jem tersebut lalu dilumurkan ke tetekku. Dengan jari telunjuknya, dia mencolek sedikit jem lalu disapu-kan kebibirku.. Aku menjilat jari Abang Helmi.. Dan kemudian menyonyotnya. Abang Helmi mengerang.. Dengan pantas Abang Helmi menjilat jem yang melumuri buah dadaku dengan rakusnya. Aku mengerang dan menjerit-jerit.

Putingku dinyonyot bagaikan seorang bayi sambil tangannya men-gurut tundun dan membelai bulu tundunku. Sesekali dia menggigit-gigit putingku. Tiba-tiba kurasakan jari Abang Helmi mula mengentel biji kelentitku. Aku mengerang dan mengelinjang.

Tubuhku mengelinjang Ke kiri dan kekanan.. Argghh.. Alangkah nikmatnyaa.. Cipapku kebahahan. Tak dapat kutahan, aku mengerang. Diriku bagaikan diawang-awangan. Abang Helmi semakin bernafsu semakin bernafsu bila aku mengerang kuat dan menjerit halus.. Abang Helmi mengangkangkan kakiku lalu melutut diantara kelengkangku..

Sekali lagi dia mencolek jem lalu disapukan ke clit dan lurah pukiku, kemudian memasukkan dalam gua wanitaku pula.. Seperti yang kuduga, Abang Helmi menjilat-jilat jem di farajku. Bagaikan seekor kucing yang menjilat susu di dalam pinggan sehingga licin.. Lidah Abang Helmi kurasakan begitu kesat.. Dan hangat meneroka lubang pussyku. Tangan Abang Helmi meramas-ramas kedua belah buah punggungku.

Aku keenakan.. Terangkat-angkat punggungku.. Abang Helmi bangun.. Menanggalkan bermudanya. Zakar Abang Helmi mencanak keras. Nafsuku pula menggelojak.. Abang Helmi menindih tubuhku kembali lalu menggomol buah dadaku.. Tanpa kusedar, kukepit badannya dengan kakiku hingga membenarkan dia memasukkan zakarnya ke dalam lubang farajku. Aku mengerang dan meraung.

Tiba-tiba Abang Helmi menggulingkan aku. Kini posisi kami ber-ubah.. Dia di bawah dan aku di atas.. Kini giliran aku pula. Aku jilat telinga Abang Helmi.. Lidahku main-mainkan disitu.. Rambut Abang Helmi kuelus lembut.. Kemudian kucium lehernya.. Kugigit lembut.. Puting dada kanannya turut kusedut.. Sambil tanganku menggentel puting dada kirinya pula..

Kucium dan kujilati tubuhnya bertubi-tubi.. Hinggalah ke zakar.. Kemudian.. Seperti yang dilakukannya, aku lumurkan jem ke kepala zakarnya.. Lalu kujilat-jilat.. Seperti menjilat aiskrim..

Batangnya pula kuurut-urut.. Kukocok-kocok.. Nafas Abang Helmi kian tidak menentu. Dia tiba-tiba menolakku dan menghimpit tubuhku ke bawah semula.. Nafasnya semakin mendesah..

“I can’t stand it anymore, Ros” bisik Abang Helmi dengan suara yang bergetar.

Aku angguk perlahan.. Dalam saat begini.. Tiada lain yang kufikirkan.. Hanya kepuasan.. Dan aku benar-benar menginginkannya..

“Yess me too bangg..” desahku mengocok kuat zakarnya.

Sekali lagi kakiku dikangkangkan. Abang Helmi menyuakan zakar-nya memain-mainkan hujung biji kelentitku.. Kemudian menjolok zakarnya ke dalam lubang farajku.

“Argghh.. Abangg Helmi.. Sedap…” kataku dengan nafas sesak. Abang Helmi menekan zakar dan menghenjut kuat ke cipapku..

“Arghh..”

Terasa zakarnya yang tegang itu bergesel pada dinding lubang farajku.. Dia menghenjut dan menghenjut.. Punggungku turut mengikut irama henjutan Abang Helmi.

“Uhh.. Uhh.. Abang Helmi.. Sedapp,” aku mengerang.

Henjutan Abang Helmi kian laju.. Aku cuba mengemut tapi tak terasa batang Abang Helmi. Semakin kuat aku mengemut.. Semakin laju henjutannya..

“Ohh.. Bestt.. Nice.. Sedap Ros.. Arghh.. I am cummingg..” jerit Abang Helmi berpeluh.

Abang Helmi memuntahkan lahar spermanya ke dalam rahimku.. Aku.. Terkapar sendirian.. Abang Helmi telentang disebelahku.. Sambil tangannya masih mengusap-usap pukiku. Kami keletihan dengan peluh membasahi tubuh kami. Aku akui, Abang Helmi cepat klimax dan sedikit gelojoh berbanding dengan Boifrenku yang romantik.. Namun.. Ia tetap thrilled..

“You no more a virgin Ros?” tanya Abang Helmi memandang ke mukaku.

AKu senyum.

“Yess.. Anything wrong?”

Abang Helmi tidak menjawab. Dia menjuihkan bibirnya. “Sape yang ambil dara you, Ros?”

“Adalah.. A nice gentleman and a veteran” jawabku bangga dan besar hati.

Abang Helmi diam sambil matanya terkebil-kebil memandang siling bilik. Aku duduk mencapai tuala dan menutup tubuhku. Senyum memandang Abang Helmi.

“I am not that good eh?” sanya Abang Helmi resah.

“Don’t worry. As long as Kak Nabila bahagia dengan Abang, You are ok” sataku menjeling dan menjuihkan bibirku kepadanya.

Abang Helmi senyum pahit walaupun dia sudah mengongkekku untuk kali pertama. Tanpa pengetahuan kakakku, perhubungan kami berla-rutan. Abang Helmi mahu selalu bersetubuh denganku. Jadi selain di rumah semasa akak aku tiada, kami nmake love kat rumah sewaku masa member aku tiada, kami buat di hotel dan kami pernah sekali sekala out station. But frankly, aku layan jer dia. Kalau nak kata puas sex, nolah. Seronok jerr.

Ke bagian 2

Tags : kisah seks, cerita seks melayu, cerita ghairah, gambar seks, malay bogel, bogel malaysia, lelaki bogel, wanita bogel, xbrain biz melayu bogel, artis melayu bogel, gadis melayu bogel, uitm bogel, cerita bogel, wanita bogel, melayu awek bogel, perempuan melayu bogel, melayu boleh bogel, gambar perempuan, gambar bugil, cerita rogol

Cerita Berahi – Azura – 2

Dari Bahagian 1


Celah pantatnya kini tampak agak lebih merah. Seluruh kelangkangnya itu nampak basah penuh dengan air liur bercampur lendir yang kental. Mmm.. Mmm.. Aku jilati seluruh permukaan bukit pantatnya itu..!


“Ooohh.. I dahh.. Tak tahan!!” rengek Iza.


Aku tidak memperdulikan erangannya. Mulut dan lidah ku terus bermaharaja lela di seluruh pantat Iza sehingga hampir lumat tempat tu mulut kukerjakan. Beberapa urat bulu pantat Iza termasuk ke dalam mulut ku dan aku rasa bibir ku panas terkena air dari pantatnya. Aku tengok jam sudah pukul 1.00 pagi.


Lidahku masih lagi bermain dengan biji kelentit yang terjojol itu dan jari ku mula nak mainkan peranan. Perlahan aku masukkan jari telunjuk ku ke dalam liang yang panas lagi berair dan aku dapat rasakan satu kemutan yang kuat menyepit jari telunjuk ku. Punggung Iza terangkat bila jari ku makin ke dalam. Aku tak tolak masuk jauh sebab aku nak batang aku meresmikannya. Aku cabut jari aku keluar dan kedua tangan ku merangkul punggung Iza dan aku tarik punggungnya naik ke atas sehingga pantatnya terdorong ke mulutku.


Sepantas kita kilat kedua-dua tangan Iza mencengkam rambut ku dan dia terbangun menahan kesedapan.. Tubuhnya masih menggil bila aku melepaskan mulut ku dari pantatnya. Aku bangun berdiri di depan Iza sambil melucutkan seluar dalam aku. Tersergamlah batang aku yang sudah keras sekerasnya. Iza senyum.


“Hmm.. Panjang..!!” kata dia tersenyum.


Aku biarkan sahaja sambil Iza mendekatkan muka dan mulut dia ke batangku. Dia membuka mulut dan memasukkan batang aku dalam mulutnya.. Digenggamnya batangku.. Dan mula menjilat-jilat kepala itu. Di dalam mulutnya aku terasa kepalaku dipermainkan oleh lidah Iza.


Aku sudah terasa batangku menegang dan tegak keras. Kulihat tangannya di bawah manakala tangan kanan di atas memegang batang kebanggaanku.. Seinci lebih terkeluar dari genggamannya. Yang itulah yang dijilat oleh Iza. Bagai nak gila aku cuba menahan sedapnya. Iza melepaskan batangku.. Ternyata sudah tegak dan keras. Lantas itu.. Dia mula menyedut.. Dan menghisap.. Sedikit sedikit..


“Mmmph.. Mmpphh.. Srrtt.. Srrt..!!” bunyi mulut Iza.


Mulutnya yang kecil itu menyukarkan Iza untuk memasukkan kesemua batang aku yang panjang dan besar itu. Beberapa kali dia mencuba tetapi baru separuh masuk sudah mengenai anak tekaknya.


Iza terus menghisap kon aku dengan mulutnya yang bercampur air liurnya.. Dia melurut lurutkan lidah dia ke atas batang aku hingga ke buah zakar. Dia kemudiannya menyedut pula buah zakar aku..


“Aduhh.. Sss.. Izaa perlahan.. Senak I..!!” kata aku pada Iza.


Dia terhenti dan menukar konsentrasinya kembali kepada kepala batang aku. Di situ dia menguak-nguakkan mulut kepala batang aku dengan menggunakan lidahnya.. Dan sesekali dia memasukkan seluruh batang ku ke dalam mulutnya.


“Mmm.. Ooo..!!” aku pula mengeluh kesedapan.


Tiba-tiba Iza berhenti mengulum batang aku dan dia membisikkan sesuatu kepadaku.


“I tak pernah buat macam ni dengan orang lain selain my husband. I tahu apa yang kita buat ni salah, tapi I sudah tak tahan.. Dan ini adalah rahsia kita berdua..!!”


Aku cuma tersenyum mengiyakan permintaannya. Aku mula membaringkan Iza dan menguakkan kakinya dan melapikkan punggung Iza dengan bantal. Pantatnya yang telah basah lencun kini terbentang indah dihadapanku.


Perlahan-lahan aku bergerak ke celah kangkang Iza dan meletakkan kepala butuhku tepat di muka bibir pantatnya yang mula berdenyut menantikan tujahan. Aku merebahkan diriku diatas perut Iza.


Untuk mengurangkan berat badan, aku sangga badanku dengan sikuku. Dalam keadaan meniarap di atas perut Iza aku mula mengisap dan menjilat puting teteknya. Dia benar-benar dalam kelazatan. Tangannya kuat merangkul kepala dan rambutku. Nafasnya berbunyi kuat. Dadanya bergelombang laksana lautan dipukul badai. Batang pelirku belum ku masukkan lagi. Namun begitu ianya sudah lama tegang dan keras.


Aku membuka bibir pantat Iza yang comel itu dan mula menusukkan zakarku ke dalam apomnya yang lencun itu.


“Aaahh.. Hhhgghh.!!” Iza merintih menahan sakit dan nikmat bila batangku mula menerobos masuk ke dalam pantatnya yang masih sempit. Aku sendiri merasa betapa nikmatnya pantat Iza. Basah dan hangat beserta kemutannya yang kuat.


Aku kembali menggomoli dan menyeludu buah dadanya. Iza mendesah menahan kegelian dan kenikmatan. Aku mulakan sorong dan tarik kat dalam pantat Iza berkali-kali.


“Argh.. Sedappnya..!!” jerit Iza bila keseluruhan batang ku telah meneroka hingga ke dasar pantatnya. Aku membiarkan seketika zakarku berendam di dalamnya.


Ketika itu diangkat tubuhnya sambil memeluk tubuhku. Kami berbalas kuluman. Batangku masih terpacak dalam lembah larangannya yang lembut dan melazatkan itu. Betapa nikmatnya kurasakan.


“Aaahh.. Ssseeddaappnya..!” rintihan Iza membuatkan aku lebih terangsang.


Akupun terus sorong tarik batangku mengesel liang pantatnya atas, bawah, kiri dan kanan mencari tempat yang membuatkan nafsunya lebih terangsang. Tangannya mencengkam erat cadar sambil matanya terbeliak dan mulutnya mengerang kesedapan.


“Lagii.. Sedappnya.. Ahh.. Aghh..!!” erangannya semakin kuat.


Aku terus menikam pantat Iza dengan sekuat hati. Batangku keluar masuk dengan laju dibantu oleh pantat Iza yang licin dan basah. Permainan kami menjadi lebih hebat kerana Iza turut membalas setiap tujahan batangku ke pantatnya dengan mengangkat-angkat dan menggerakkan punggungnya. Seketika kemudian aku mencabut batangku dan memintanya menonggeng. Iza berlutut di atas tilam dan aku berdiri di belakangnya lalu merodok masuk senjataku.


“Ohh.. Sedapnya, please do it hard to me.. Agghh.. Sedapnya macam ni..!!”Aku semakin kuat mendayung.


Agak lima minit Iza nak mencuba teknik ‘riding’pula. Aku menuruti kemahuannya. Sebelum menunggang aku, dia sudah membasahi pelirku dengan air liurnya. Aku bantu dia memasukkan batangku ke dalam lubang pukinya. Walaupun lambat sikit, tetapi dia berjaya dan tanpa rasa sakit atau ngilu.


Sebaik sahaja dia memulakan henjutan, aku juga mula meramas-ramas buah dadanya. Dua tindakan berpadu dalam satu aksi. Batangku terasa licin. Ini maknanya lendir masih banyak dalam lubang pantatnya. Kupegang erat buah dadanya. Dalam keadaan itu, aku gunakan Ibu jariku menggentel-gentel puting payudara Iza.


“Ohh.. Hngg..” rengek mulut Iza pada setiap henjutan yang dilakukan.


Ternyata dia sudah mula berahi dan penat. Apa tidaknya, nafasnya sudah mula sesak. Lubangnya terasa ketat. Tanganku masih meraba dan meramas-ramas buah dadanya. Dalam pada itu, sekali-sekala aku tujah juga batangku. Sebentar kemudian aku suruh dia gantung punggungnya. Maksudku, angkat sikit supaya aku dapat menujah lubang pantatnya. Dia bercangkung dan aku mula menujah sambil tanganku terus-terusan menggentel puting teteknya.


“Ohh.. Sedapp.. Sedapnya!!” rengeknya bertalu-talu.


Aku berhenti menujah apabila aku dapati lubang pantatnya ketat semula. Kalau aku teruskan dia akan ‘cum’dan sampai ke puncak atau climax terlebih dahulu.


“Ah..! kenapa henti. I tengah sedap nii. Please..!!” rayu Iza apabila aku berhenti menojah tadi.


“Sabar.. Sayang I terasa penatlah” jawabku berpura-pura.


Sudah tiga kali dia nak sampai ke puncak. Ketiga-tiganya aku sekat dengan berbagai cara. Sebenarnya, air maniku juga sudah nak terpancut, sekiranya aku teruskan menojah-nojah tadi. Aku mahu biar lebih lama batang pelirku berendam dalam lubangnya. Kekadang lebih enak dan menyeronokkan direndam daripada terus-terusan menghenjut.


Dia masih lagi di atas. Dengan kedua-dua tapak tangannya di atas dadaku, dia membongkok sedikit. Aku tidak jemu-jemu bermain dengan buah dadanya yang tegang dan bulat itu. Apabila kugentel-gentel puting teteknya, badannya mula mengeliat kesedapan. Pelirku juga semacam dicas semula.


“Cepatlah.. Sedap ni..!!” rayu Iza sekali lagi.


Dengan perlahan-lahan, aku mula menojah-nojah lubang pantatnya. Turun naik turun naik bertalu-talu. Kemudian semakin lama semakin laju.


“Sedapp.. Sedapp..!!” dia merintih lagi.


Aku kemudiannya mencabut batangku dan membaringkannya semula. Aku mengangkangkan kaki Iza seluasnya dan terus menjunamkan batangku ke dalam lurah larangannya.


“Agghh..!!” Iza mengerang kesedapan tatkala keseluruhan batangku memasuki pantatnya.


Batangku keluar masuk dengan laju ke dalam pantat Iza. Semakin lama semakin laju. Aku semakin melajukan dayunganku dan Iza mula mengerang kuat. Aku tahu Iza akan klimax. Aku juga sedemikian. Tahap bertahanku akan berakhir..


“I nak lepas.. Dalam!!” aku cuba mengujinya.


“Jaannggann.. Nanti.. Ngandung.. Lepass luaarr!!” Iza menjerit halus membantah permintaanku.


Dayunganku semakin laju. Apabila terasa aku hampir memancutkan air maniku dengan pantas aku mencabut batangku dari pantat Iza.. Oohh.. Dearr.. Dan serentak dengan itu aku memancutkan air maniku. Iza seakan tersentak tatkala pancutan maniku yang pekat, laju dan banyak itu terkena buah dadanya. Sepantas itu juga aku menghalakan batangku ke mukanya. Berjejes air pekat kena sebahagian pipinya yang gebu dan ditumbuhi jerawat galak itu.


Iza tersenyum kepuasan membiarkan air nikmat itu kering ditubuhnya.. Hampir lima minit barulah Iza bangun semula lalu meniarap di atas badanku. Dikucupnya bibirku sambil menggeselkan pantatnya dengan batangku. Batangku mulai mencanak semula.


Perlahan-lahan Iza turun hingga bibirnya bersentuhan dengan batang aku. Terus dijilatnya saki baki air maniku dan dikulumnya zakarku. Aku merasa ngilu bila batangku bersentuhan dengan lidah dan gigi Iza. Sekali lagi aku memancutkan air maniku tapi kali ini di dalam mulut Iza. Aku terdampar keletihan dan Iza segera berlari ke bilik air memuntahkan maniku yang bergenang dalam mulutnya.


“Tidur sini le.. I sejuk..!!” bisiknya setelah kembali dari bilik air. Aku segera memeluknya dan akhirnya kami tertidur keletihan.


Aku terjaga ketika jam menunjukkan hampir pukul enam setengah pagi. Aku bergegas keluar dari rumahnya membawa seribu kenangan.. Ohh Iza aku sayangkanmu!


E N D


Tags : cerita seks melayu, cerita ghairah, gambar seks, malay bogel, bogel malaysia, lelaki bogel, wanita bogel, xbrain biz melayu bogel, artis melayu bogel, gadis melayu bogel, uitm bogel, cerita bogel, wanita bogel, melayu awek bogel, perempuan melayu bogel, melayu boleh bogel, gambar perempuan, gambar bugil, cerita rogol

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.